Image Slider

Jumat, 11 Oktober 2019

Batuk terlalu lama, kapan harus ke dokter ?


Selasa, 01 Oktober 2019

Terlalu Manis Ternyata Berbahaya




Nona Manis siapa yang punya..
Nona Manis Siapa yang punya..
Cukup wajah si nona aja yang manis yaaa, darahmu jangan.


Di Tulisan kali ini kita bakal ngebahas yang apa aja yang manis-manis, Hayoo.. apakah itu. Yaitu makanan dan minuman yang manis.

Setelah melalui hari senin hingga jumat yang lumayan melelahkan karena harus berkonsentrasi penuh menyelesaikan semua pekerjaan, tugas-tugas kantor, tugas-tugas kuliah demi weekend yang berkualitas nantinya. Kadang tanpa kita sadari banyak banget lho jam kritis di kantor maupun di kampus. Jam kritis yang saya maksud disini adalah jam-jam ngemil yang abnormal yang tanpa disadari kita lakukan.

Meski udah makan siang.. sejam kemudian. Buka handphone liat-liat menu di Aplikasi jajanan online, check out deh dengan banyak banget pesanan. Hohoho..
Wah.. Wah.. harus waspada lho sahabat healthies. Seperti judulnya “ Terlalu manis ternyata berbahaya. Selanjutnya akan saya paparkan mengapa Tubuh tidak dianjurkan untuk menerima asupan glukosa ( gula ) dalam jumlah yang berlebihan.

Terlalu banyak mrngonsumsi makanan manis yang mengandung kalori merupakan penyebab kenaikan berat badan. Mengonsumsi makanan yang kaya glukosa tanpa diimbangi dengan olahraga maka akan membuat berat badan bertambah dari waktu ke waktu. Lalu hal yang berbahaya yang lain apa saja ? ya tentu saja kita akan terserang suatu penyakit. Asupan glukosa yang berlebihan dapat menyebabkan Penyakit Diabetes Mellitus.

Apa itu Diabetes Mellitus ?

Diabetes adalah penyakit yang muncul karena adanya faktor genetik didalamnya. Di Indonesia sendiri penyakit ini lebih dikenal dengan penyakit kencing manis. Diabetes Mellitus adalah gangguan metabolik yang terjadi secara kronis atau berlangsung menahun karena tubuh tidak mempunyai hormone insulin yang cukup akibat adanya gangguan pada sekresi insulin.

Apa fungsi hormon insulin ? 
Insulin adalah sebum hormon polipeptida yang mengatur metabolisme karbohidrat. Selain merupakan "Efektor" utama dalam homeostatis karbohidrat, hormon ini juga ambit bagian dalam metabolisme lemak dan protein. Hormon ini bersifat anabolic dimana fungsinya mampu meningkatkan penggunaan protein. Hormon insulin termasuk hormon yang penting dalam tubuh sistem metabolisme tubuh, jika terjadi gangguan yang menyebabkan produksi insulin berkurang ataukah mengalami penurunan fungsi maka sel-sel akan mengalami kekurangan energi. Hormon ini di produksi oleh organ tubuh yang bernama "Pankreas" 

Apa saja Gejala Diabetes Mellitus ?

World Health Organization atau WHO (2016) menyebutkan bahwa penyakit ini ditandai dengan munculnya gejala yang khas yaitu ; Poliphagia ( Sering Lapar ), Polidipsia ( Sering haus) dan Poliuria ( Sering buang air kecil). Penyakit Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang sangat perlu diperhatikan dengan serius. Karena jika penyakit ini tidak terdeteksi sejak dini dan terjadi kronis tanpa terkontrol maka akan menyebabkan beberapa komplikasi seperti kerusakan mata, ginjal, pembuluh darah, saraf dan jantung.

Apa saja faktor Resiko Penyakit Diabetes Mellitus ?

Riwayat DM keluarga / Genetik  
Diabetes ini sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Seorang anak memiliki risiko 15 % menderita DM tipe 2 jika kedua atau salah satu dari kedua orang tuanya menderita DM. Anak dengan kedua orang tua menderita DM mempunyai risiko 75 % untuk menderita DM dan anak dengan ibu menderita DM mempunyai risiko 10 – 30 % lebih besar dari pada anak dengan ayah menderita DM.

Berat Lahir
Bayi lahir dengan berat kurang dari 2500 gram atau keadaan berat BBLR mempunyai risiko lebih tinggi menderita DM saat dewasa. Hal ini terjadi karena bayi dengan BBLR mempunyai risiko menderita gangguan fungsi pancreas sehingga produksi insulin terganggu.

Stress
Stress yang dihasilkan dari pengalaman atau peristiwa tertentu. Sakit, cedera dan masalah dalam kehidupan dapat memicu terjadinya stress. Dan tubuh secara alamiah akan merespon dengan banyak mengeluarkan hormone untuk mengatasi stress. Hormon-hormon tersebut membuat banyak energy (glukosa dan lemak) tersimpan di dalam sel. Insulin tidak membiarkan energy ekstra ke dalam sel sehingga glukosa menumpuk di dalam darah.

Umur
Umur yang semakin bertambah akan berbanding lurus dengan peningkatan risiko penyakit diabetes mellitus karena jumlah sel beta pankreas akan mengalami penurunan fungsi.

Jenis Kelamin
Wanita lebih memiliki potensi untuk menderita diabetes mellitus daripada pria karena adanya perbedaan anatomi dan fisiologi. Secara Fisik, wanita memiliki peluang untuk mempunyai indeks massa tubuh di atas normal. Selain itu, adanya menopause pada wanita dapat mengakibatkan pendistribusian lemak tubuh tidak merata dan cenderung terakumulasi.

Pekerjaan dan Pendidikan
Faktor pendidikan yang baik akan membuat masyarakat tahu dan mempunyai pengetahuan yang memadai tentang penyakit diabetes mellitus ini, sehingga akan lebih waspada dan akan memperbaiki life style mereka.

Pola Makan
Hubungan antara pola makan dengan kejadian diabetes mellitus mempunyai hubungan yang signifikan. Pola makan dan gaya hidup yang buruk merupakan faktor risiko yang paling berperan dalam kejadian Diabetes Mellitus. Pengaturan diet yang sehat dan teratur sangat perlu diperhatikan terutama wanita. Pola makan yang buruk dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas yang dapat memicu terjadinya DM.

Merokok
Kebiasaan Merokok merupakan faktor risiko diabetes mellitus karena memungkinkan resistensi insulin. Kebiasaan merokok juga telah terbukti dapat menurunkan metabolisme glukosa yang kemudian menimbulkan Diabetes Mellitus. Dan tentu saja Merokok bukan suatu life style yang baik ya sahabat healthies, jika bisa dihindari sebaiknya dihindari ya..

Makanan dan Minuman Apa saja yang mengandung Glukosa yang tinggi ?

Sumber gula tinggi yang terdapat pada makanan dan minuman yang biasa kita jumpai sehari-hari. Yaitu ; kue-kue dan cake yang manis, minuman kemasan hingga minuman bersoda.

Bagaimana pencegahan yang dapat kita lakukan ?

Karena penyakit Diabetes Melitus ini dapat menyerang siapa saja, terutama pada usia produktif tanpa memandang jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Sehingga kita harus lebih peduli tentang faktor risiko penyakit Diabetes Mellitus. Tentu saja dengan memperhatikan apa yang kita konsumsi setiap hari, makanan apa saja yang kita makan. Sudahkah kita menerapkan gaya hidup sehat pada kehidupan kita sehari-hari. Sudahkah kita berolahraga ? Sudahkah kita mengonsumi sayuran dan buah-buahan ? sudahkah kita berusaha berhenti merokok ? sudahkah kita bersyukur hari ini ? disaat kita mampu menerapkan manajemen stress dalam aktivitas pun, maka  secara tidak langsung fisik akan sehat dan psikis (jiwa) pun menjadi bahagia.






























Kenali Tanda Anemia




Suatu siang di Poli Umum 
Seorang pasien perempuan usia 34 tahun duduk menunggu antrian di panggil oleh petugas registrasi untuk bertemu Dokter..


Dokter             : Pagi ibu, silahkan duduk
Dokter             : Bagaimana bu, ada yang bisa saya bantu, ibu keluhannya apa ?
Pasien              : Ini loh bud ok, kepala saya sering pusing, badan capek-capek, rasanya kalau aktifitas cepat capek gitu.
Dokter             : Sudah berapa lama bu, ibu rasakan seperti ini ?
Pasien              : Sudah lama sih dok, sudah sebulan begini
Dokter             : Ada keluhan lain bu yang belum ibu sampaikan ?
Pasien              : Dengan itu aja sih dok saya kurang nafsu makan juga
Dokter             : ibu ada riwayat penyakit apa lagi sebelumnya, apa sekarang ibu sedang hamil ?
Pasien              : Nggak lagi hamil dok, nggak pernah sakit kayak gini sih dok, baru ini aja keluhannya
Dokter             : Baik bu, saya periksa dulu ya.

Lalu Dokter melakukan pemeriksaan Fisik Secara Head to Toe pada ibu tersebut.
Dan tidak menemukan tanda-tanda yang abnormal kecuali Kesan Anemis pada Conjungtiva.

Dokter             : saya sudah lakukan pemeriksaan bu, saya curiga ibu sedang mengalami anemia, tapi untuk lebih memastikan lagi kita cek darah di laboratorium ya, setelah ada hasilnya nanti ibu ke ruangan ini lagi.
Pasien              : Baik Dok.

Kemudian Sang Dokter memberikan selembar kertas pengantar laboratorium si ibu, dan si ibu pun bergegas menuju laboratorium untuk melakukan pemeriksaan darah, tidak lama berselang sekitar 30 menit, si ibu kembali untuk menemui Dokter tersebut.

Hasilnya,

Hb                   : 7,6 g/dl
Dokter             : Wah bu, ini hasilnya sudah ada dan ternyata memang ibu sedang mengalami gejala anemia.
Pasien              : Terus gimana dok, anemia itu apa dok ?


Anemia itu apa sih dok ?

            Nah, Sahabat Healthies kira-kira seperti di atas ilustrasi interaksi antara dokter dan pasien yang datang dengan keluhan-keluhan yang dapat mengindikasikan Anemia.  Dimana tentu saja kondisi ini jangan dianggap sepele dan wajib harus kita kenali sehingga kita dapat melakukan upaya sedini mungkin untuk mengatasi gejala tersebut karena anemia yang berlangsung lama atau kronik akan mengakibatkan sejumlah komplikasi lho.

Saya akan memulai dari penjelasan yang paling mudah dipahami, Jika biasanya kita mengenal Istilah Anemia ; Kurang darah yaitu kondisi ketika darah tidak memiliki sel darah merah sehat yang cukup. Anemia yang disebabkan oleh kurangnya sel darah merah yang tidak berfungsi di dalam tubuh. Ini dapat menyebabkan aliran oksigen berkurang ke organ tubuh.  

( Sumber : Google ) 

Sedangkan pada penjelasan text book ilmu kedokteran ; Anemia merupakan keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit, dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal. Dan memiliki beberapa kriteria Diagnosis seperti ;

-       Sindrom Anemia : Badan lemah, lesu, cepat lelah, mata terasa berkunang-kunang, kulit pucat, detak jantung tidak teratur, napas terasa pendek, rasa dingin pada tangan dan kaki.
-       Pemeriksaan Fisik  : Didapatkan konjungtiva Anemis, jaringan dibawah kuku pucat, Koilonychia, atrofi papil lidah, serta cheilosis

-       Laboratorium : Kadar hemoglobin menurun dari ringan sampai berat, Anemia mikrositer hipokromik pada apusan darah tepi, Eritrosit MCV < 80 fl dan MCHC < 31 % , besi serum < 50 mg, TIBC > 350 mg/dl

( Sumber : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FK.UI Jilid II )

Sebagai seorang dokter kita biasanya mendapati hasil anamnesa (Tanya-jawab) seperti percakapan yang diatas, keluhan yang dialami oleh si ibu. Pada pasien hamil muda kadang disertai keluhan mual dan muntah yang tidak khas. Maka dari itu kita kudu wajib mengenal gejala anemia karena dapat menyerang siapa saja lho.
Oh iya kadar Hb normal pada beberapa laboratorium biasanya memiliki nilai batas yang berbeda-beda, namun secara umum Hb dikatakan normal pada range antara 13 – 17 gr/dl.

Apa Saja Jenis- Jenis Anemia berdasarkan penyebabnya ?

1.Anemia Karena Kekurangan Zat Besi
Keadaan tubuh yang kekurangan zat besi menyebabkan tubuh (sel darah merah) tidak mampu menghasilkan hemoglobin (Hb) Kondisi tersebut dapat diakibatkan karena tubuh kekurangan asupan makanan yang mengandung zat besi didalamnya.

2. Anemia Masa Kehamilan
Pada ibu hamil biasanya memiliki nilai hemogblobin yang lebih rendah dari pada orang biasanya, karena kebutuhan hemoglobin yang dibutuhkan oleh ibu hamil jauh lebih meningkat sehingga membutuhkan banyak zat sebagai pembentuk hemoglobin seperti ; zat besi, vitamin B12 dan asam folat. Oleh karenanya asupan vitamin ini sangat diperlukan agar mampu mencegah anemia dan mencegah kelainan pada janin.

3. Anemia Karena Pendarahan
Anemia yang disebabkan karena pendarahan dapat terjadi spontan dan kronis, penyebabnya berbagai hal seperti kecelakaan, menstruasi, wasir, ada pendarahan pada lambung, terdapat kanker pada saluran cerna hingga adanya riwayat penggunaan obat anti inflamasi dalam jangka panjang yaitu penggunaan NSAID.

4. Anemia Aplastik
Jenis Anemia ini terjadi karena adanya kerusakan pada sumsum tulang dimana membuat tubuh tidak mampu lagi menghasilkan sel darah merah. Kondisi ini dapat dipicu oleh adanya proses infeksi, penyakit autoimun, paparan zat kimia beracun serta efek samping obat.

5. Anemia Hemolitik
Anemi hemolitik terjadi ketika penghancuran sel darah merah lebih cepat dari pada pembentukannya. Kondisi ini bisanya diturunkan dari orang tua atau ada faktor genetik didalamnya.

6. Anemia yang diakibatkan oleh penyakit kronis
Ada beberapa penyakit yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah apalagi bila penyakit ini berlangsung kronis. Antara lain ; Penyakit Crohn, penyakit ginjal, kanker, rheumatoid arthritis dan penyakit HIV/AIDS

7. Thalassemia
Penyakit  Thalasemia adalah penyakit yang disebabkan oleh mutasi gen yang mempengaruhi produksi hemoglobin. Dan penyakit ini biasanya diturunkan dari orang tua yang memiliki riwayat penyakit yang sama.


Kapan sebaiknya harus ke dokter ?

Tibalah kita dibagian yang penting, kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter. Jangan tunda untuk ke dokter jika sahabat healthies mengalami gejala yang saya sebutkan di atas tadi, seperti cepat lelah dan gejala-gejala klinis lainnya. Segera konsultasikan ke dokter jika memiliki riwayat keluarga yang saya sebutkan tadi, karena ada beberapa anemia yang disebabkan oleh faktor genetik.

Bagi para ibu hamil agar rutin memeriksakan kesehatan dan kehamilannya ke dokter kandungan, karena dengan begitu dokter akan memberikan suplemen tambahan untuk mencegah anemia saat menjalani kehamilan. Jangan lupa ya sahabat.


Bagaimana Cara mencegah Anemia ?

Banyak cara yang dapat kita lakukan agar terhindar dari sindrom anemia ini antara lain tentu dengan menjalankan pola hidup sehat ya sahabat healthies, mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung zat besi dan protein seperti daging merah, telur, dan hidangan lainnya yaitu tetap mengonsumsi buah dan sayur-sayuran hijau, Berolahraga , tidak merokok, tidur tepat waktu, serta mengendalikan stress.


Hayoo.. Menjalankan pola hidup sehat memang tidaklah mudah yaa, karena dibutuhkan komitmen pada diri sendiri. 

Saya pun demikian, Seperti pepatah ala bisa karena biasa.  

















Custom Post Signature