Image Slider

Kamis, 09 Oktober 2014

Kamu tidak harus selalu memenangkan argumen Sepakatlah untuk tidak sepakat




Pixels.co



“..Kak cinta…… kak cinta…, Caramel Macchiato..” 

Suara Barista di coffee shop itu memecah heningku saat asik menatap layar gadget ditanganku. Aku pun berdiri lalu menghampirinya untuk mengambil segelas caramel macchiato pesananku lalu kembali mencari tempat duduk. Aku seorang pecinta kopi, bersama kopi aku selalu menemukan beberapa hal yang menarik, menemukan banyak ide, dengan kopi juga aku merasa tidak pernah sendiri. Kopi memang adalah teman sejati bagi penikmatnya, beberapa orang mungkin akan setuju denganku tentang hal ini.

“   Maaf kak, meja disini ada orangnya gak ?”

“.. iya ada, ini saya orangnya, jawabku pada pria berkemeja hitam berkerah sore itu, aku menjawab sambil tersenyum dan dia pun ikut tersenyum.

..”iya,, kosong kok kak, saya cuma sendiri.

“ oh, iya terima kasih, karena meja yang lain sudah penuh. saya pikir mbak lagi nunggu teman.
“.. iya tidak kok, silahkan… “


Kejadian seperti ini bukan yang pertama kualami, ini sudah sering sekali terjadi padaku ketika menikmati waktu luang di coffee shop ber wi-fi. Kadang ketemu teman lama yang udah lama banget gak ketemu, ketemu teman SMA, pas lagi asik googling atau streaming video lagu-lagu baru, nyari -nyari jurnal, artikel-artikel paling baru, eh ada yang ngagetin, kadang juga ketemu temennya temen dan kebetulan aku kenal dia, kadang ketemu mantannya temen yang putusnya baru aja, ada yang putusnya udah lama banget dan dia masih nyapa aku sebagai temannya mantannya, kadang ketemu mantan gebetan, ketemu gebetannya mantan, eh sampai ketemu mantan sendiri. zzzz 

Kadang juga ketemu yang pernah kenal baik tapi pura-pura gak kenal karena udah dengan gandengan baru dan bahkan pernah ada yang cuman ngelirik aja, senyum - senyum pura - pura kenal padahal sama sekali gak kenal. ah, sudah.. lah bukan ini yang jadi poin pentingnya, yang pasti ada-ada saja hal yang aku temui kalau lagi di luar sendiri dan lagi ngopi.

“ Minum apa mbak ? “ suara kakak di samping mejaku membuat konsentrasiku stuck sejenak dan menghiraukan pertanyaannya.
“ oh, ini kak.. pesan kopi caramel.
“ suka kopi ya ? atau memang suka kesini ? serius banget dari tadi sama komputernya ? hhe
“.. iya kak, suka kopi, suka kesini, dan lg nonton tutorial bikin web.
aku menjawab sambil senyum kemudian kembali ke layar laptop.
Phhfftt….

Aku mulai menerka-nerka umur kakak laki-laki yang duduk di samping mejaku ini tapi dalam keadaan berhadapan denganku. Aku sebenarnya bukan grogi ataupun nervous, tapi lebih kepada orang ini kok dari tadi nanya banyak sekali mulai dari aku mesan apa, dan apa aku suka kesini, se detail itu. Sampai akhirnya 20 menit berlalu, dia kemudian memesan minuman.

lagi lagi barista memanggil sebuah nama,,
“ Kak.. R……… ” Strawberry Frapuccino
ohhh, namanya kak R. Gumamku dalam hati.

Menit itu juga, Aku langsung teringat kejadian dimana aku bertemu Fahmi teman baruku, Umurnya lebih tua beberapa tahun tapi gak mau dipanggil kakak, “ ah, panggil Gee ajaa “ itu katanya. Kejadiannya sama. Saat aku menikmati expresso hangat bersama anak koas gigi yang hobi banget galau di warung kopi masa kini salah satu Mall di kotaku. Sebenarnya fahmi adalah temen temanku, tapi karena saat itu fahmi lagi kedapatan jalan sendiri dan kebetulan melintas pas di depan meja kami, alhasil transitlah dia untuk bercerita sambil diskusi banyak sekali hal. 

Fahmi lulusan S1 IT, Strata 2 dia ngambil ilmu pertambangan UI di Salemba karena musti ngelanjutin bisnis dari orangtua yang bergerak di bidang Pertambangan, lulus S1 di singapura gak gampang loh, menurutku dia beruntung banget bisa mengenyam pendidikan di sana dan suka duka sekolah di sana dia juga cerita ke kami, makanya kenapa sekarang dia nikmatin banget waktunya kalau lagi ada free time sebelum balik kerja on lagi di tambang, ceritain suka duka di lokasi yang gak ada signal gadget dan bermacam macam kegalauan lainnya termasuk soal Patah hati.

Mungkin si Fahmi sekarang lagi batuk batuk karena masuk di cerita blog kali ini, ah ga papalah..  untuk porsi teman baru bagiku yaa dia anak yang baik.

hmmm, Jam tanganku sudah menunjukkan hampir 30 menit aku duduk disini, aku pun berfikir sepertinya aku akan punya teman baru lagi. Dan ternyata benar, sejak saat kejadian di coffee shop sore itu, aku dan kak R menjadi teman, dia adalah Dokter yang lagi PTT dan sedikit lagi selesai, dia adalah Dokter lulusan Sekolah Kedokteran Negeri di sini, dia meluangkan waktu untuk minum kopi sambil browsing juga karena lagi mendaftar online di salah satu perusahaan untuk menjadi dokter di sana, Jujur aku terkesan pada kemampuannya mengatakan hal yang tepat bahkan ketika aku pun sama sekali tak terpikirkan untuk memikirkannya duluan. 

Menurutku Dia salah satu manusia langka yang aku temui yang ketika bersalah, segera mengakui dengan kepala tegak dan ego yang utuh. Dia tidak merasa perlu memenangkan setiap argumen dan menjadi orang pertama yang mengakui ketika dia tidak bisa memenangkan argumen itu.

Pembahasan demi pembahasan satu persatu teramu jadi satu cerita sore itu, mulai dari memperbincangkan tentang era BPJS untuk masa depan Dokter, manfaat bagi masyarakat, membicarakan biaya sekolah kedokteran yang semakin hari semakin menguras isi kantong, tentang pembangunan kesehatan yang sampai hari ini tidak merata, sampai tentang kota Makassar sedikit lagi bermutasi menjadi kota jakarta, membicarakan AFTA, membicarakan problematika setelah pengesahan UU Pilkada,  tentang suka-duka menjadi dokter baru di daerah terpencil, tentang dia, tentang banyak hal. 

Dari semua pembahasan, dia tidak pernah menyepakati satu pun argumenku, ketika aku berargumen bahwa era BPJS ini sudah dapat meringankan beban masyarakat menyangkut problem kesehatan, baginya belum.

Itulah salah satu contoh obrolan yang masih kuingat ketika aku menulis ini.

Ketika dia melihat bahwa beberapa argumentasi kami menghadapi jalan buntu dengan tenang ia menyatakan seperti seorang pemenang hadiah Nobel ternama

“ Kamu tidak bisa menyakinkanku dan aku tidak bisa menyakinkanmu , jadi mari kita sepakat untuk tidak sepakat “

Ah.... Rasanya Aku sulit sekali membantah pernyataan itu.

Aku belum pernah mendengar pandangan seperti ini sampai aku bertemu dengannya. Karena bagiku argumen selalu di mulai dari dua pihak dan berakhir dengan satu pemenang saja dan jika Ia. maka aku harus jadi pemenang, Argumen tidak bisa diakhiri dengan angka seri.
Itu tidak mudah, terutama dalam sebuah diskusi lepas dan dadakan seperti ini, apalagi dengan orang baru.

Banyak hal yang kupelajari dari bincang- bincangku bersama Dokter R, banyak sekali yang ku ketahui tentangnya, usianya, kesukaannya, tempat tinggalnya, dan ternyata dia adalah keponakan dari Profesor Dosen pengajar yang ku Idolakan di bangku kuliah, sekali lagi banyak hal tapi tidak tentang hatinya. 

Banyak pula yang ia tahu tentangku, usiaku, asalku, dimana aku bersekolah, hobiku,  tapi tidak sekalipun hatiku.

Sepakat untuk tidak sepakat ?? itu berarti tidak seorangpun harus benar dan tidak seorang pun harus menjadi salah.

Jika benar bahwa pria berasal dari Mars dan wanita dari Venus, sesungguhnya mereka adalah teman yang baik. Satu hal yang penting ; Membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya, membuka diri kepada siapapun akan membuka ruang, di ruang kecil itu ada teras untuk tamu.


Bagaimana dengan Hati ? Ia adalah rumah, ditangan kitalah yang memegang kuncinya, pada siapa yang kita biarkan masuk sampai ke inti, pada siapa saja yang hanya menyapa sebagai tamu kemudian pergi.


Ingat, ditanganmu tergenggam kuncinya, bukalah lebar-lebar pintu itu pada yang kau perkenankan masuk sampai ke inti.

Jadi tak usah takut untuk membuka diri dengan siapa saja, bisa saja orang yang baru kau kenal sebenarnya adalah orang yang mampu memberimu pengetahuan tentang sesuatu, bisa saja orang baru yang kau temui di suatu tempat dimanapun itu adalah hal yang terbaik yang membuatmu belajar, sekali lagi selamat ngopi-ngopi dan ngobrol-ngobrol dengan siapa saja yang baik-baik yang bisa membuat kita jadi lebih baik.


Terima kasih Dokter R, senang bertemu dan berkenalan dengan kakak.



Hmmm.. Dia apa kabar yaa sekarang... 





Senin, 25 Agustus 2014

Pelajaran Dari Beres-Beres Kamar Tidur Siang itu





Pinterest dikolaborasi oleh canva



Membuang benda-benda adalah sesuatu yang berlawanan dengan Genetikku. Orang tua saya yang pernah hidup pada zaman Depresi, menyimpan segala sesuatu. Mengalami masa kanak-kanak yang kata mereka “masih dalam keadaan kekurangan”  mengajar mereka tidak membuang apapun. 

Gudang milik ayah adalah kuil rongsokan, dan kamar belakang ibu adalah kuil penghematan


Jika ada Kaus kaki berlubang ? Gunakan untuk keset. Jika ada Kemeja bernoda ? Kenakan di bawah Balero. Jika ada Jeans dengan lutut yang usang ? Gunting menjadi celana pendek, kata-kata ibu yang masih teringat jelas di kepalaku.


Siang itu, Hari Minggu..  Free time yang tidak biasa kudapatkan dan sudah kujanjikan untuk diriku sendiri bahwa hari ini aku akan menghabiskan waktuku membenahi beberapa hal disudut kamarku. Dan kumulai dari lemari pakaian. 
Yang menghentikan langkahku dari membersihkan lemari adalah aku bertemu kembali dengan diri masa laluku.

Diriku yang dulu atletik tidak bisa berpisah dengan baju lengan pendek, baju tanpa lengan pemain basket umumnya, celana olahraga selutut, bantalan lutut, sampai karet pengganjal persendian kaki, yang meyakinkanku bahwa aku memang masih cukup muda tapi tak mungkin lagi untuk berolahraga basket lagi disela-sela waktu kosongku.

Diriku yang dulu sangat memedulikan trend, punya beberapa dress selutut, sampai rok spandek hitam diatas lutut, Blouse perempuan  lengan pendek dan aku sudah hampir tidak pernah menggunakannya selama 4 tahun terakhir karena kini aku telah memakai jilbab.

Diriku yang kadang mampu merasakan nostalgia mempertahankan setiap benda yang punya kisah, misalnya ada daster merah jambu bermotif bali pemberian sahabatku, ada pula kaos oblong milik teman yang tak sengaja kupakai karena hari itu bajuku terkena guyuran hujan saat aku mengunjungi rumahnya, sebut saja ia masa-masa Putih abu-abu. Dan kami masih merasa sangat dekat juga saling merindukan. Dan benda-benda ini masih kupakai hingga sekarang.

Diriku yang realistis mengambil alih semuanya dan memutuskan sudah waktunya berpisah dengan segala sesuatu yang tidak aku kenakan selama 5 tahun terakhir. Aku membereskan dan menumpuknya kemudian berniat memberikannya kepada orang lain. Segunung benda aneka rupa, dan rasanya aku seperti menjadi manusia baru, Hidupku teratur, ah.. ya paling tidak lemari pakaianku.

Aku memilah semua benda yang aku rasa sudah menggumpal dan menyumbat pembuluh darah di kamarku. Aku seperti wanita yang kerasukan membereskan setiap sudut, lemari pakaian, laci meja belajar, rak buku, juga box barang barang lama dikamarku.

Aku membuang sarung tangan dan kaos kaki yang tidak berpasangan, aku mulai memilah benda-benda lamaku, semuanya pelan-pelan dengan mengajukan empat pertanyaan kepada diriku sendiri. ; 


Apakah berguna ? Apakah Indah ? Apakah menambah makna kepada hidupku saat ini ?? Jika benda-benda ini digratiskan pada suatu obralan, apakah ada yang akan mengambilnya ? 



Pertanyaan terakhir berfungsi sebagai serum kebenaran.

Aku lalu mengambil Kardus kosong yang berukuran agak besar lalu mengisinya dengan hasil pilahan satu demi satu, ada yang berencana kuberikan ke anak perempuan, tetanggaku. Rok spandek selutut juga dress yang hampir tidak pernah aku pakai lagi. Ada juga yang ingin kukirim ke rumah keponakanku, yaa keponakanku , anak pertama dari kakak laki-lakiku. Sebuah piama, dan cardigan yang ukurannya kecil, juga beberapa bonekaku, buku-buku bacaan yang menurutku akan berguna untuknya.


Kamarku terasa seperti siap digunakan lagi, aahhh.....aku merasa sangat lega. 



Memilah barang-barang lama kemudian menyingkirkannya ataukah diberikan kepada yang lebih membutuhkan (akan mereka butuhkan) membuat kita melepaskan masa lalu membuat kita membuka ruang bagi masa depan. 

Lalu untuk apa saja kita membuka ruang ?? Cara-cara baru untuk mengalami kenikmatan dan romansa, kreativitas dan ketenangan,  Hobi baru, teman-baru, juga sebuah tujuan baru.


Kadang akan terasa perlu membuang sesuatu yang berlebih dengan begitu kita dapat merangkul apa yang memiliki esensi ; indah, bermakna dan meningkatkan hidup kita. Ketika akhirnya kita dapat melepas diri dari masa lalu, pelan-pelan kita kan menemukan diri saat ini dan diri yang kita inginkan.




Kamis, 14 Agustus 2014

...Berilah waktu kepada waktu





Pada mulanya saudara iparku, teman-teman sosial media yang telah berkenan membaca blog pribadiku mengirimiku email, mereka semua ingin tahu apakah aku mempunyai rahasia hidup. Awalnya aku mengacuhkan semua email-email yang berisi pertanyaan-pertanyaan itu, namun kemudian aku berpikir mungkin semesta sedang mencoba mengatakan sesuatu kepadaku, apakah rahasia dari uang, relasi dan kebahagiaan ??? 

Sebenarnya ini bukanlah rahasia, ada satu kekuatan. Ada satu hukum. Hukum tarik-menarik, mungkin itulah ungkapan sederhana dariku, kita dapat menarik segala sesuatu yang datang ke dalam hidup ini.

 Hidup, adalah kita  dengan pikiran-pikiran yang kita pelihara dan kita yang menciptakannya.


Sahabat Karibku, mempunyai kata-kata luar biasa ; “ Hidup ini keras, pakailah helmmu !” Ternyata dia benar, dia tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Kadang-kadang kita memang membutuhkan helm untuk bertahan melewati tanjakan dan turunan, kelokan dan putaran, goyangan dan guncangan serta rem mendadak. 



Dan itu baru di jam sibuk lalu lintas dipagi hari, belum kejadian yang lainnya. Rahasia yang paling utama lagi adalah tidak terlalu terikat pada kehidupan jenis apapun, yang baik ataupun buruk.  Saat-saat baik akan datang dan pergi. Saat-saat buruk akan datang dan pergi.  Tugas kita adalah berpegang kuat-kuat pada salah satunya dan memerangi yang lainnya, tetapi memperbolehkan keduanya mengajari dan momoles jiwa dan hidup kita. 

Pepatah yang selalu kugunakan setiap suatu masalah datang, ataukah sedang menghadapi saat-saat yang buruk “ life must go on” ini juga akan berlalu. Dan memang kebanyakan orang juga memikirkan ini, namun tidak ingin menggunakannya untuk saat-saat baik, kita tidak ingin membiarkan saat-saat baik berlalu, kita ingin membuatnya bertahan selamanya, tetapi cepat atau lambat segala sesuatunya akan berubah. 

Hidup ini seperti menaiki rakit disungai dan membiarkannya membawa kita melewati air yang bergolak dan air yang tenang, memercayai aliran sungai.  Terlepas dari analogi diatas, bagiku hidup ini adalah perjalanan yang liar sekaligus indah. 

Kekacauan akan datang, ketenangan akan muncul sesudahnya, lalu semuanya akan dimulai lagi dari awal, Yang ku lakukan cuma satu ; menikmati perjalanan. Kata-kata Albert einsten bahwa ; Hanya ada dua cara untuk menghidupi hidup anda. Yang satu adalah hidup seakan-akan keajaiban itu tidak ada. Yang lain adalah seakan-akan segala sesuatu adalah keajaiban.

Hidup adalah keajaiban, bagiku


Kadang-kadang keajaiban itu datang dalam keemasan yang dibungkus seperti kesalahan besar. Kuncinya mungkin adalah belajar menemukan keajaiban di tengah kekacauan. Aku pun terus mencobanya, aku menulis niat-niatku, memecahnya menjadi tujuan-tujuan dan sasaran. Merekatnya di tempat yang mudah dilihat, membacanya keras-keras, menghirupnya dan menghembuskannya bersama napasku, membayangkan semua itu terjadi.

Aku berjanji untuk lebih banyak minum air putih, lebih banyak meluangkan waktu untuk orangtua, keluargaku, membayar dengan tunai setiap kebutuhanku daripada dengan kartu kredit, menjadi pasangan yang lebih ramah untuk kekasihku, Menjadi tante yang baik untuk keponakanku. Aku suka menulis, maka aku menulis. 

Yaa Aku sangat menyukai tulisan maka dari itu aku menulis ini untuk email-email pertanyaan tentang rahasia kehidupanku, ada begitu banyak kehidupan yang dijejalkan ke dalam retakan-retakan satu hari kecil,  kita bisa membuat seseorang tertawa, tersenyum, berharap, menyanyi, berpikir. 



Hari yang terpenting bukan sekedar ulang tahun, hari jadian, hari ulang tahun pernikahan,hari lebaran, hari natal, atau hari kelulusan. Tetapi hari dimana ketika kita masuk, dan menghidupi satu hari saja sepenuh-penuhnya. 



Hidup adalah anugerah, Hidup ini hadiah tapi tidak diikat dengan pita, kemudian berilah waktu kepada waktu.
Hanya itu rahasiaku.






Custom Post Signature