Image Slider

Senin, 23 November 2015

Pakai saja sepatumu sendiri


                                           
         Sering saya ingin meminjam kehidupan orang lain, saya mengintip perjalanan beberapa wanita lain dan ingin mencoba sepatu mereka dan berjalan dengan sepatu itu. saya memandangi kakiku dan membandingkan sepatuku dengan sepatunya. Sepatunya tampak lebih cantik, lebih seksi, lebih super dan jauh lebih nyaman. Tentu saja aku tidak tahu bagaimana sepatu itu terasa di kakinya, saya hanya memikirkan bagaimana sepatu itu akan tampak di kakiku.

         Sangatlah mudah membandingkan bagian dalam diri saya dengan bagian luar orang lain dan mengambil kesimpulan yang keliru. Padahal diri kita tidak tahu apa yang sebenarnya.
 Abu saya bilang ; “ Pakailah sepatumu sendiri, jangan melihat sepatu orang lain. Jika kita semua disuruh melempar masalah ke tumpukan dan bisa melihat masalah orang lain, yakinlah kita akan berjuang untuk mendapatkan kembali masalah kita, bukan karena masalah kita lebih mudah, tetapi karena masalah itu adalah milikmu, masalah itu adalah hadiahmu, kehormatanmu, hadiah-hadiahmu “. Hadapilah masalahmu, pakailah sepatumu.


@moccachinta
Jumat, 13 November 2015

Kepada Kekasih yang sedang jauh dari Rumah



Kepada Kekasih yang sedang jauh dari rumah.
Kamu harus percaya, Kamu tidak pernah benar-benar sendirian.

Barangkali, tulisan ini juga tidak akan mampu menyeka kerinduanmu, kerinduanku.
Sama seperti suaraku yang tidak mampu memelukmu, Tidak mampu menyembuhkan nyeri di persendianmu, panas dingin tubuhmu. Namun aku ingin mengatakan padamu, bahwa di dunia ini banyak sekali yang tidak kita inginkan. Namun itulah karunia Tuhan yang diberikan kepada kita, Bukankah semua itu adalah pilihan kita, meski tanpa kita sadari. Hanya doa-doa yang memaksa lahir di antara getir usaha melepaskan napas. Ada yang harus kau percaya benar merasa jauh darimu, kau tak ubah adalah jantung yang berdetak di setiap detik hidupku, selalu ada meski tak selalu teraba.

Aku ingin berbicara denganmu disela-sela waktu luang, jika tak sempat dengan tatap mata ajaklah aku berbicara dengan ucap doa. Kita sampaikan saja kepada DIA yang telah menjatuhkan rasamu di dadaku, kepada DIA yang memelukan rinduku di lengan-lenganmu.

Aku ingin kau mengerti dan tahu apa yang sedang kita rasakan. Meski kesendirian terasa menyakiti, Kelak akan ada senja dan malam yang akan kita habiskan bersama, Aku selalu percaya Tuhan tidak akan pernah menciptakan awal jika DIA tak pernah ingin menemukan akhir yang indah bagi kita. Belajarlah memelukku meski hanya ingatan yang merasuki kepalamu, meski tak pernah benar-benar menghangatkan dadamu, Bersamamu adalah belajar Tabah menjalani hidup sampai kita dipertemukan nanti, Agar peluk tak pernah merasa sepi, agar dua tangan kita tak lelah menyampaikan doa.
Kadang, kita memang harus percaya doa-doa jauh lebih kuat dari segalanya.

Kepada Kekasih yang sedang jauh dari rumah.
Aku memilihmu karena aku percaya, rasa tidak pernah salah dalam mengeja.
Kepada Kekasih yang sedang jauh dari rumah.
Memilihmu adalah hal yang ingin ku kenang sebagai keputusan terbaik.


Selamat Ulang Tahun Sayang.
Muhammad Ayyub Ibrahim.



 @moccachinta
Selasa, 10 November 2015

Hidup yang sederhana, seharusnya semudah ini


Ayah saya membayar tunai untuk segala sesuatu, jika ia tidak punya uang tunai, itu berarti ia tidak membutuhkan barang itu. Dia adalah polisi, tukang memperbaiki kran air yang bocor, tukang pipa, tukang lampu, tukang pompa air rumah kami. 


Saya tidak pernah tahu berapa penghasilannya, berapa pun yang ia miliki, dia membaginya untuk keperluan 3 anaknya. Cukuplah dikatakan bahwa ketika kami dibesarkan, kami tidak memiliki banyak kelebihan, tetapi kami mendapatkan semua yang kami butuhkan.

Ayah tidak pernah berkata 

“ Kita tidak mampu membelinya, Saya tidak pernah mendengar kata-kata “Kita tidak punya uang untuk itu” Dia akan melihat apa yang kami inginkan dan berkata, “Kamu tidak membutuhkan itu” 


Dan dia benar, Tentu saja kami tidak membutuhkannya, Kami hanya menginginkannya.


Dia mengajarkan cara mengelola keinginan kami.


Hal ini yang membuatku menunda untuk membuat kartu kredit pertama saya setelah banyak sekali operator bank A,B,C dan D yang menawarkan banyak sekali potongan diskon untuk pembelanjaan di toko A,B,C,D dan seterusnya. Aku hanya berfikir mengapa akan terasa mudah sekali mengeluarkan kartu plastik untuk makanan seharga 120.000 rupiah, ketimbang mengeluarkan dua uang lima puluh ribu dan dua puluh ribu. 

Bagiku membayar tunai akan membuat kita berpikir dua kali sebelum memesan makanan pembuka dan penutup saat harus berada di luar rumah.

Sebagian besar dari kita membelanjakan beberapa ratus ribu rupiah disini, dan beberapa ratus kemudian di sana. Dan akhirnya menjadi jutaan setiap bulannya, banyak dari kita berfikir kalau saja penghasilan kita naik, gaji kita bertambah, dan mungkin saja jika kita bisa memiliki uang yang lebih banyak. 

Saya membaca banyak buku yang mengajarkan perilaku kita terhadap uang, bahwa masalah uang tidaklah pernah tentang uang, tetapi bagaimana kita berpikir tentang uang, tentang bagaimana perilaku kita terhadap uang. Dan hal itu bisa diubah.

 Ayah saya mengajarkan pelajaran yang tidak kudapatkan di sekolah, Pelajaran berharga, mengajari kami hidup yang sederhana tanpa harus merasa kekurangan, bagi saya menjalani hidup yang berkelimpahan bukan berarti memenangkan lotre, menikah dengan orang kaya, atau mendapatkan kenaikan gaji setelah aku bekerja. 


Ini hanya tentang pelajaran sederhana yang perlu kuwarisi terhadap anak-anakku kelak, dengan menaikkan kesadaran kita tentang uang, ini dimulai dari mengetahui apa yang kita inginkan tidak selalu kita butuhkan dan seringkali bahkan bukan yang sejatinya kita inginkan. Ini dimulai dengan belajar membuat pilihan-pilihan cerdas yang menjurus pada kepuasan jangka panjang.

Bahwa kita hanya perlu berubah untuk hal yang lebih baik.






Custom Post Signature