Image Slider

Sabtu, 11 November 2017

Tak perlu malu mengunjungi Psikiater





Seorang konselor pernah bilang kepada saya, “ Beberapa orang di dunia ini memang hadir dalam keadaan rapuh ” Tubuhnya lebih mudah lebam, lebih mudah menangis" , kata-katanya sangat menyentuh perasaan saya karena ternyata saya adalah salah satu diantaranya. Saya dan suami akhirnya memutuskan mengunjungi seorang Psikiater yang juga seorang konselor ( Seorang yang memberikan konseling tentang keluarga).

Di awal tahun kemarin, kami memiliki banyak tekanan karena beberapa peristiwa yang kami alami, Kami mengalami banyak kebahagiaan seiring dengan kesedihan itu. Namun, Kami tidak berpegang erat pada salah satunya karena keadaan pastilah berubah.

Ketika kami harus kehilangan calon bayi pertama kami, saat itu saya pulang dari Rumah Sakit, sehabis menjalani tugas jaga. Di rumah saya mengalami kontraksi hebat saat Dini hari, nyeri perut yang menusuk-nusuk hingga ke punggung dan panggul belakang,  rasanya ingin pingsan, penglihatan tiba-tiba menjadi hitam, keringat dingin, dan tubuh gemetar. Rasa sakit itu sungguh tidak tertahankan. Darah segar itu mengalir begitu saja tanpa permisi, Suami saya segera membawa saya ke IGD ( Instalasi Gawat Darurat ) dan sehabis menjalani banyak pemeriksaan, Dokter Kandungan menyatakan saya terkena K.E ( Kehamilan Ektopik ).

Sudah hampir 3 minggu saya tidak mengalami menstruasi, namun karena kesibukan bersekolah di stase Bedah, saya lupa untuk sekedar memeriksa diri sendiri, Beruntung Kehamilan ektopik ini tidak sampai mengakibatkan saluran tuba fallopiku pecah dan harus diangkat karena perkembangan embrio yang bukan pada tempatnya. Syukurnya saya baik-baik saja setelah menjalani operasi untuk mengeluarkan embrio kami, namun harus menjalani fisioterapi karena ekstremitasku sedikit tidak bisa merasakan rangsangan sensoris yang mengakibatkan saya harus menjalani MRI ( Magnetic Resonance Imaging ) dan sejumlah pengobatan.
      
Pasca K.E atau kehamilan ektopik Dokter menyarankan kami untuk melakukan program kehamilan, saya disarankan untuk tidak hamil dulu selama 6 bulan sampai 1 tahun ke depan. Diharapkan semoga penyembuhan tuba fallopinya lebih cepat dari dugaan agar K.E ini tidak terulang lagi Karena sangat membahayakan bagi nyawa si Calon Ibu.

Dokter menyarankan kami untuk rutin memeriksakan kandungan saya ke dokter setiap 3 bulan, ya Kami sedang hidup dalam pantauan Dokter. Desember hingga januari kemarin merupakan bulan-bulan yang mengharuskan saya keluar masuk rumah sakit.  Saya meyakinkan suami saya bahwa semuanya akan baik-baik saja, Yang selalu saya bilang “ Tenanglah, ini tidak akan lama.
“Kita menikah untuk Hidup ini”

Bagi saya hidup adalah suatu seri masalah, disaat kita berada dalam suatu masalah ataukah baru saja keluar dalam suatu masalah, maka bersiap-siaplah untuk memasuki masalah lain. “ Kita menikah bukan untuk bahagia” 

"Kita menikah untuk hidup ini”  Karena kebahagiaan itu tidak selalu dibungkus dengan pita, indah, dan sesuai keinginan. Bisa jadi kebahagiaan itu kemas oleh Tuhan dalam bentuk masalah dan kesedihan.



Konselor kami bilang “ Sang Maha Pencipta memang telah merancang beberapa orang untuk memikul lebih banyak dari pada yang lain. Beberapa dari mereka perlahan-lahan diberi tahu bahwa mereka dipilih untuk ini “ Memikul lebih banyak”  Jika dalam kehidupan ini kita mengalami banyak kesulitan , diri kita memang telah di desain untuk menanggungnya.  “ Tuhan tidak memberi lebih dari yang dapat kita pikul “

            “ Beberapa dari kita diminta untuk memanggul lebih banyak dari orang lain” 

Saya melihat perubahan yang baik terhadap suami saya setelah kejadian ini dan setelah kami mengunjungi konselor, sedikit banyak telah mengubah cara pandang kami. Kami dapat melihat kesulitan yang kami alami sebagai suatu hadiah dan kebaikan. Semenjak 10 bulan ini Suami saya banyak berubah, Dia lebih perhatian dari sebelumnya, saya merasa dia terlalu berlebihan kadang-kadang.

Dia membantuku mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak sempat saya kerjakan, dia lebih sering berada di rumah, dia bangun lebih awal dari saya, dia memberikanku waktu istirahat yang lebih banyak ketika hari libur. Pernah suatu hari dia pamit untuk ke toko buku dan membelikan saya buku -buku bacaan yang baru, dia membelikanku majalah bobo, ada-ada saja, tapi saya bahagia karena sangat suka dengan majalah itu, Cerita Si Bona kecil Berbelalai panjang kesukaanku.

Dia tidak pernah lupa membelikan makanan kesukaanku saat pulang kerja dan tidak pernah lupa menanyakan itu ketika hendak meninggalkan kantor, setiap malam minggu kami keluar menonton film-film baru, minum kopi, makan di pinggir jalan, mengenang masa-masa pacaran kami dulu. Meski memang pada dasarnya  dia lebih manja dari pada saya, dia tidak pernah bisa tidur kalau badannya tidak dilumuri dengan penghangat seperti minyak gosok,  dia selalu meminta itu.

Ahh....Ternyata dia memberikan waktunya lebih banyak dari yang saya harapkan.

Saya merasa dia menjadi lebih mencintai saya. Dia jauh lebih baik dari sebelumnya, 10 bulan sudah berlalu sejak kejadian itu, Sebuah kesulitan yang menjadi kebaikan untuk kami. Kini hidup kami jauh lebih baik.

 Entahlah“ Mungkin inilah cara Tuhan membuat kami lebih erat, Kesulitan itu ternyata menjadi perekat bagi kami.

            Saya tidak selalu bisa mengerti cara kerja Tuhan dalam hidup saya, tetapi sampai saat ini saya masih berdoa dan beribadah kepadaNYA. Saya tidak mengerti cara listrik bekerja, tetapi saya tidak membiarkan ketidaktahuan itu membuat saya hidup dalam gelap. Saya tidak harus mengerti pada Tuhan, untuk dapat percaya kepadaNYA. Saya percaya matahari bahkan ketika dia tidak bersinar”

“ Saya percaya pada cinta bahkan ketika saya tidak bisa merasakannya.

" Saya percaya pada Tuhan sepenuhNYA, Bahkan ketika DIA diam saja.


Hari ini adalah jadwal kami mengunjungi konselor, kami senang karena menjadi tahu apa-apa yang membuat kami resah, apa-apa yang membuat tidur kami tidak nyenyak, tahu apa-apa yang tidak perlu kami cemaskan dalam hidup ini.

Konselor kami telah membantu kami melewatinya. Tak perlu malu, karena sebagian orang diberi waktu untuk belajar lebih banyak dari apa yang tidak kita pelajari, dan kita harus mencari tahu apa yang belum kita ketahui, termasuk menaklukkan diri sendiri.


Selamat menjalani hari ini.



            
Senin, 06 November 2017

Cukup dikenang saja bukan untuk diulang


Koass cukuplah dikenang saja bukan untuk diulang. Mungkin kata-kata inilah yang selalu diucapkan oleh teman-teman (mantan) ko-ass di seluruh Indonesia. Masa dimana hampir 24 jam bahkan bisa lebih berada di Rumah Sakit menjaga pasien konsulen, karena harus  melapor hasil observasi ke konsulen, masa dimana harus menjelma jadi manusia serba bisa, mulai dari menjelma menjadi tim hore penyemangat untuk ibu-ibu yang sedang menghadapi kontraksi pada tiap pembukaan per pembukaan, menjelma menjadi manusia kurang tidur dan mata panda karena harus jaga malam 24 jam kemudian lanjut lagi di pagi harinya untuk dinas, kemudian kembali jaga di sore harinya lagi,  istilah dek Koass mah ngecor ngebor ngesottt.. 

Masa dimana harus tumbang karena imunitas menurun karena kelelahan kemudian makan tidak teratur dan lebih sering mengalami keluhan kenaikan asam lambung, sampai dapat sering terinfeksi salmonella thypii dan digigit nyamuk aedes aegypti pas jaga malam.
Semua ini hanya bisa dilalui dan dirasakan di masa-masa koans.

Masa dimana tiba-tiba supervisior (Dokter senior) menunda pembacaan laporan kasus ataukah tiba-tiba disuruh pembacaan besok tanpa konfirmasi terlebih dahulu, jeng-jeng… menjelmalah kita menjadi mesin copy paste kilat. Bhahakak.

Masa dimana pas lagi dapat bagian sebut aja stase yang ada Residennya ( Dokter umum yang lagi ngambil sekolah Ahli) Biasanya sih stase Bedah, Anastesi dan stase Jantung lalu kesemsem gitu tau-taunya residennya udah punya pacar, bahahaha.. jadilah Cidaha aja, (Cinta dalam hati) Ciyeee ciyeee.. Pengalaman yah ? ah, bukan kok. Pengalaman teman saya :D hahaha

Masa dimana dapet penguji sangar malah disuruh nyanyi dulu baru ujian, padahal udah belajar sampai keliyengan eh ternyata pas ujian ditanyain nama, alamat dan udah gitu aja. ZZZZzZZ.
Rezeki nak koass emang beda-beda.

Masa dimana pas lagi meriksa pasien, ditanyain sama pasien
P : Dok, Masih jomblo ya ?? “ mau saya kenalin sama anak saya Dok,”
D : Hmm.. gimana ya buk ( Karena hubungan sama pacar lagi ngak jelas)
P : “Mau ya dok yaa..
D : Hmmm…
P : " Mau ya dok ya..
P : Nanti saya kenalin ya dok, minta nomor teleponnya yaa dok..
D : pzcxbzvfsvrwrzzzztttt///?/?!!!!!!



Kenapa Mau Jadi Dokter ?


Sebenarnya sih saya tidak pernah kepikiran buat kuliah di Fakultas Kedokteran Apalagi untuk jadi Dokter. Soalnya buku-bukunya banyak, musti ngapalin buku inilah, buku itulah, buku-bukunya juga bukan hanya banyak, tapi tebal-tebal gila, ilmu tentang tubuh manusia dari A sampai Z, Ilmu tentang penyakit dari A sampai Z. Pokoknya sebelumnya gak kepikiran deh. Soalnya baca novel yang 57 halaman aja mata udah sayup-sayup manjah, bayangin kalau musti baca 200 halaman bahkan lebih dan musti diulang-ulang, wow… emejingg..

Akhirnya pas SMA baru deh kepikiran mau masuk Fakultas Kedokteran, padahal disuruh jadi polwan sama bapak dan ibu, Iya.. karena bapak saya adalah seorang polisi. Karena rambut saya yang tidak mau dipotong pendek saat itu akhirnya mati-matian belajar buat bisa masuk Fakultas Kedokteran. Kalau dibilang terjebak sih, iya.. terjebak, terjebak di dunia yang begitu menguras emosi. Fakultas yang melatih mental dan harus menumpuk banyak sabar.

Sabar nunggu Dosen, nunggunya kadang sampai magrib karena Dosen yang bersangkutan sedang ada operasi kalau siang hari, alhasil kuliahnya diundur hingga sore sampai magrib. Sabar nunggu Ujian, sabar nunggu nilai keluar, sabar ngadepin pembimbing pas Koass, sabar nunggu Konsulen saat mau Ujian Stase, sabar kalau nilai yang keluar gak sesuai dengan angan-angan, Jlebb.
Sabar kalau musti ada mata kuliah yang diulang.

iya… Kuliah di fakultas Kedokteran musti banyak sabarnya.  Beneran deh, Karena kalau kuliah disana kalau gak banyak sabar, dapat masalah sedikit aja pasti pengen kabur rasanya, pengen keluar aja deh, pengen berhenti aja, gak sanggup, gak kuat rasanya.

Menurut saya dan dari hasil sosial eksperimen kecil-kecilan yang saya lakukan selama di bangku kuliah dulu dan masa-masa menjalani kepaniteraan klinik, kuliah atau masuk di fakultas kedokteran gak selalu butuh orang pinter, tapi orang yang fighter. 


Dalam arti orang yang mau berjuang. Karena tidak banyak juga orang pintar ketika dia dapat masalah dan dia stuck di urusannya, mentalnya jadi gak kuat untuk  menjalani dan menghadapi. Disinilah support dari orang-orang terkasih sangat berarti terutama orangtua dan keluarga. Sampai saat ini saya masih meyakini bahwa Doa orangtua dapat mempermudah segala sesuatunya.

Saya gak mau cerita soal manis-manisnya aja masa-masa duduk di bangku kuliah kedokteran, manis-manisnya belakangan aja ya.
Kalau setengah hati pengen kuliah kedokteran. Apalagi kalau hanya pengen masuk Fakultas Kedokteran karena ikut-ikutan temen karena dibilangnya keren, karena ini, karena itu, atau sampai karena menantu idaman itu anak kedokteran sebaiknya periksa dulu niatnya, memang sih ekspektasi kita yang melihat anak kedokteran itu enak, pas lulus nanti udah pasti bakalan kerja, gak susah nyari kerja. Status sosial di masyarakat juga jadi beda.

Tapi kalau niat kamu kuliah ada yang seperti saya sebut tadi sungguhlah sangat disayangkan jika masuk Fakultas Kedokteran gak sesuai passion kamu.


Padahal untuk masuk FK aja sekarang-sekarang ini bisa dibilang gak murah, untuk uang pangkalnya saja bisa sampai seharga mobil CRV-Turbo baru, belum lagi biaya tiap semesternya yang seharga Iphone terbaru bahkan bisa lebih dari itu. Sementara itu kamu hanya pengen masuk FK biar dikatain keren sama temen-teman kamu dan ternyata sebenarnya kamu sadar kalau ahh, kayaknya ini bukan passion saya nih dan ketika udah jadi mahasiswa FK kamu gak serius untuk mau belajar.
Sungguh-sungguhlah sangat disayangkan.

Karena untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran, Kita butuh perjalanan yang sangat panjang. Saya pun baru percaya pada kata-kata mutiara kalau sukses itu memang butuh proses setelah berkuliah di fakultas ini.

Saya  terkadang iri pada teman-teman sepermainan saya sewaktu SMA dulu, saat saya masih menjadi ko-ass dan menjalani kepaniteraan klinik mereka udah ada yang kerja, udah ada yang kerja di Bank A, di Bank B, ada yang udah jadi PNS, pokoknya udah menghasilkan uang sendiri, Nah,  sementara saya ? Diumur saya yang sebaya dengan mereka, masih bergantung uang sekolah sama orangtua.
Hiks, hatiku teramat perih.


Berapa lama sih sekolah Kedokteran Itu ?



Ini sekilas gambaran tahap-tahap yang musti dilewati sampai bisa mendapat gelar Dokter Umum.
(Dr.) Pertama Kuliah dulu 3,5 tahun ( kalau semua mata kuliah lancar jaya dan tidak ada masalah ), lalu ikut wisuda dan mendapat gelar sarjana kedokteran atau S.KED.

Nah ini udah punya ilmu kedokteran tapi belum bisa buka praktik karena harus sekolah lagi wajib ikut kepaniteraan klinik  atau KO-ASS kurang lebih 2 tahun ( kalau semua stase lancar dan tidak ada tuming) Tuming adalah istilah dalam koass yang berarti turun minggu, dimana stase yang dijalani menjadi lebih panjang, tergantung turun minggunya ada berapa minggu. Kurang lebih harus melewati 12 stase yang dibagi menjadi 2 tingkat. Tingkat 1 dan tingkat 2 untuk fakultas kedokteran umum.

Berarti nih ya.. sudah kurang lebih 5,5 tahun ya.. untuk nyelesaiin pendidikan dokter. Apa setelahnya udah bisa langsung praktik ?? jawabnya belum ! Untuk bisa praktik dan memperoleh STR, harus ikut ujian kompetensi lagi namanya UKDI ( Ujian Kompetensi Dokter Indonesia) yang sekarang sudah berganti nama menjadi UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Pendidikan Dokter), setelah dinyatakan lulus UKDI/UKMPPD, musti nunggu STR (Surat Tanda Registrasi Dokter) lagi biar bisa dinas di rumah sakit, nunggunya tuh kadang sampai 6 bulan ngurus-ngurusnya, belum lagi nunggu wahana penempatan.

Setelah itu baru bisa ikut program namanya Internship. Internship ini wajib dijalani oleh dokter umum yang baru saja lulus ujian kompetensi. Nah, tuh… dijumlahin tuh berapa tahun duaarr 5,5 tahun + 6 bulan + 1 tahun, yaa sekitar 7 tahunan dikitlah.. baru bisa bernapas lega menyandang gelar DOKTER. Wow… Lama banget yaa ??? Iya lama Mba sist, Mas Bro. 
Pas kita yang udah kelar pendidikan dokternya dan ketemu temen-temen lama, mereka udah pada ngerasain pegang duit, pegang gaji sendiri, punya kendaraan, stylenya udah kecehhh badai.. Serrrrr. Kita mah apa atuh, hanya butiran marimas, disiram air dikit aja, hilang deh.. cup cupppp.. cup…

Lalu Perlukah minder ???

Gak perlu, santai aja
Setelah 7 tahun yang lebih sedikit itu dan lama bengettt, ngett ngett.. 
Barulah kita masuk dunia kerja yang sebenarnya, yaa sedikit banyak udah pegang duit sendiri, udah bisa ngasih orangtua oleh-oleh pulang dari dinas malam, yang dulunya saat sekolah dibuatin bekal pas mau jaga malam. 
Sekarang udah bisa nelpon ke ibuk atau bapak
“ Ma.. mau dibelikan apa ?
" Pak, saya sudah jalan pulang, tadi lewat penjual sate, banyak yang beli, saya beli juga buat bapak dan ibu.
Hiks, jadi Haru, meski harga yang gak seberapa tapi udah bisa bilang begitu ke bapak dan ibu di rumah, ada yang ngalamin kayak gitu gak ???

Ya.. terkadang juga  sesekali jadi dokter ganti di klinik swasta atau yaa buat yang berani ambil resiko langsung tuh ke daerah terpencil praktik dan mencari nasib baik seperti ikut program Dokter Nusantara Sehat, Untuk yang orangtuanya berlebih ada juga yang langsung lanjut sekolah spesialis, untuk ambil Dokter Ahli.

Nah, itu tadi perjalanan panjang untuk mendapat gelar Dokter, dimana gelar itu merupakan amanah, yang dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Karena kita di sumpah di atas Kitab Suci dan ada nama Kolegium yang dibawa serta di pundak kita.  Dan saya yakin, kepada sejawatku yang sedang berjuang untuk melewati proses-proses ini, percayalah.. kita lah orang-orang terpilih itu. Orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi perpanjangan tanganNya Di Dunia, membantu sesama, membantu yang membutuhkan, membantu orang-orang yang sedang berjuang untuk sehat, membantu orang-orang memperbaiki derajat kesehatannya, orang-orang yang menantikan sehatnya untuk berkumpul bersama keluarganya.

Kamulah yang terpilih.

Tahun-Tahun inilah tahun yang mendewasakan, mengajarkan saya banyak hal.
Kesabaran, ketekunan, keikhlasan, kesederhanaan. Tahun-Tahun yang mendidik saya menjadi manusia yang kuat, manusia yang dekat dengan masyarakat. Apalagi saat stase IKM, Harus turun ke lorong-lorong ngadain posyandu, ke RT, RW ngadain penyuluhan. Saya rasanya dekat banget dengan mereka apalagi pas kunjungan home care ditemani ibu-ibu puskesmas.

Sangat menyenangkan dan indah untuk dikenang. Nanti saya akan memasuki dunia yang lebih real, kalau kunjungan yang dulu dilakukan saat masa-masa sekolah, Sekarang semuanya dilakuin sendiri saat mengabdi di masyarakat. Kalau yang ini bakalan diulang lagi nanti. hehehe

Ahh.. Rasanya rindu sekolah lagi... ( Sekolah Dokter Spesialis tapi hahahah :D )

Jangan jadi dokter kalau niat itu bukan murni dari hati dan jangan jadi dokter kalau gak kepengen-kepengen banget.  Jadilah apapun profesinya yang penting penghasilannya bisa dipakai untuk berobat ke dokter.



Selamat menjalani hari ini.


Custom Post Signature