Image Slider

Rabu, 30 Januari 2019

7 Tips Mengelola Keuangan Bagi Pasangan Muda







Bagi pasangan muda seperti saya memang seharusnya banyak belajar tentang pengelolaan keuangan keluarga, beberapa waktu saya berkesempatan menghadiri seminar-seminar yang menghadirkan pembicara keuangan, seminar investasi sampai belajar dari sosial media pun ku lakukan demi belajar apapun mengenai keuangan. Jouska_id menjadi favoritku.

Setelah menikah barulah saya menyadari betapa pentingnya pengetahuan tentang finansial itu, sekarang barulah saya sadar kalau pernikahan bukan hanya soal “ Saya mencintai kamu, Kamu mencintai saya “

Pernikahan adalah perjuangan yang sangat monumental. “ Hidup Bersama ” 
“Tujuan Bersama “ maka atas apapun itu persoalan uang pun sebaiknya dikelola dan direncanakan bersama dengan pasangan kita.

Dulu saya dan suami sempat berkeinginan untuk membayar seorang finansial adviser untuk menghitung dan membuat portofolio keuangan kami. Namun, mengingat biaya yang harus kita keluarkan tidak main-main, maka kami sepakat untuk menundanya. Ya.. sudah, kita belajar otodidak, sambil belajar, sambil menjalani. Dan ini telah kami mulai sejak tahun pertama pernikahan kami.

Tahun-tahun pertama setelah pernikahan jujur saya kewalahan mengatur uang masuk dan uang keluar, sebut saja neraca bulanan rumah tangga.
Bisa dikatakan hampir setiap bulan ada kebocoran yang kami alami. Dimana berakhir dengan kata “Nombok”  dari Tabungan dan tergerus sedikit demi sedikit. Namun setelah saya dan suami mulai memperbaiki komunikasi tentang uang, pelan-pelan kamipun pulih dari hal tersebut.

Kalau ditanya sebagai pasangan muda seberapa penting sih pengelolaan keuangan untuk saya ? 
Saya akan jawab ; sangat penting setelah pengaturan jadwal berhubungan biologis suami - istri, karena tidak bisa dipungkiri keuangan yang sehat juga akan menciptakan keluarga yang harmonis.
Tidak jarang lho, masalah-masalah keuangan menjadi akar dari timbulnya percekcokan dalam rumah tangga. Saya mendengar sendiri hal itu dari teman-teman saya yang belum tergugah belajar tentang finansial.

Bagi saya persoalan finansial hampir sama dengan kesehatan. Kita akan survive kalau kita taat melakukannya, seperti jika kita ingin menjalankan pola hidup sehat maka tentu saja kita akan menahan diri dari godaan-godaan makanan yang berminyak, mengandung banyak kolesterol, kita akan menghindari jeroan, banyak makan buah-buahan, sayuran serta rutin berolahraga.

Finansial pun demikian, jika kita ingin kondisi finansial kita survive, tetaplah berjalan pada relnya, mulai dari jeli membedakan keinginan dan kebutuhan. Membuka diri untuk belajar, mulai berinvestasi dan membiasakan diri hidup minimalis. Bagi beberapa orang termasuk saya sendiri, Hidup tidak selalu menyangkut persoalan uang namun bagaimana cara kita memperlakukan uang dan hal itu bisa diubah.



Memasuki tahun kelima pernikahan sebagai pasangan muda, saya akan membagi 7 Tips yang bisa dilakukan oleh pasangan muda yang baru saja menikah dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Pertama : Satukan Visi Keuangan Bersama Pasangan

Memiliki Me time berdua dengan pasangan untuk sekedar berbincang tentang kondisi keuangan keluarga adalah hal yang mutlak bagi pasangan yang baru saja menikah, apa saja visinya, apa saja tujuannya lalu disatukan menjadi tujuan bersama. Ajak pasangan untuk mengobrol setiap weekend tentang uang, saya melakukan ini bersama pak suami setelah tahun pertama pernikahan terlewati.

Saat saya merasa kewalahan mengatur uang dapur, kebutuhan mendadak, dan lain sebagainya. Tahun pertama menikah, saya belum berpengasilan karena masih menempuh status sebagai anak sekolah. Jadi pemasukan semuanya dari gaji suami. Meski saat awal menikah saya sudah punya tabungan pendidikan tetap tidak bisa saya gunakan untuk keperluan pribadi saya. Makanya saat itu nombok pakai tabungan suami yang ia kumpulkan saat dia masih single.

Tujuan keuangan kami sebenarnya gak pernah muluk-muluk. Bisa hidup sebagaimana mestinya dan berkecukupan sudah merupakan suatu anugerah. Kata cukup ini tentu saja adalah hal yang relatif bagi tiap-tiap orang.








Setelah saya bekerja barulah saya mendetailkan setiap tujuan-tujuan finansial saya. Berapa yang harus ditabung, berapa yang harus dibelanjakan, berapa yang harus diberikan kepada orangtua kami.
Saya adalah tipe orang yang belanjanya setelah 30% penghasilan berhasil disaving terlebih dulu, pokoknya aman dulu lah 30 % entah diinvestasikan ke logam mulia ataukah jadi saham di sekuritas.

Barulah sisanya saya belanjakan. Oh iya, gaji saya, saya kelola sendiri, pak suami sama sekali gak turut campur yang penting laporan bulanan saya selalu masuk ke dia. “ Habis beli ini ”, habis transfer ke ibuk segini “ Ditulis, dicatat dengan rapih.

Memberi orangtua memang bukan suatu kewajiban sih, tapi masuk ke dalam Previllage “ hak istimewa” . Kapan lagi bisa memberi orangtua hasil keringat kita ya kan ? Pikirku yaa kapan lagi ? Selagi mereka masih ada, meski orangtua gak pernah minta, tapi setidaknya saya yang harus lebih peka sebagai anak, apalagi kalau ingat perjuangannya membesarkan saya, rasanya dengan transferan setiap bulan pun belum cukup untuk membalas jasanya.

Kalau ke mertua gimana ?? Ngasih juga gak ? Secara ekonomi orangtua suami lebih baik dari orangtuaku, mertua ada passive income dari bisnis setiap bulan. Kalau kita mau ngirim setiap bulan, "...Pak, mau transfer  nih, minta rekeningnya. ( sampai sekarang kami gak tau no.rekening bapak )
Pasti dibales, Uangmu sudah banyak kah ?? Pakai saja untuk kebutuhanmu Nak
Rada nyessek sih hahaha, tapi kan tipe orangtua beda-beda. Maka untuk pihak suami belum spesifik dan rutin kami alokasikan, akhirnya kami tidak pernah asbsen setiap bulan membawa buah tangan untuk mereka.

Sementara gaji pak suami yang harus dibagi dua : Uang bulanan : Jatah istri, uang dapur dll. Kemudian Uang saku pak suami ; Investasi dan jatah minum kopi suami. ( Saya berusaha jadi istri yang gak kaku-kaku banget, masih ngebiarin  suami ngopi sama temennya sebulan dua kali ). 
Lah, kok katanya kelolanya sama-sama kok masih dibagi ?
Iya, karena meski pembagiannya masih di kotak-kotakkan tapi tetap kita punya tujuan yang sama. Baca lagi setelah ini ya.

Kedua : Jangan Lupa Mencatat Arus Kas "Cash Flow”

Nah setelah visi tersatukan dan menemui titik terang dengan pasangan. Wajib mencatat arus kas setiap bulan, kalau perlu kudu punya buku keuangan rumah tangga. Biar pengeluaran sekecil apapun bisa terpantau dan tentunya ada rasa aware dalam mengelola uang. Semisal hari ini mau keluar ke supermarket, sebaiknya dicatat dulu apa yang hendak dibeli biar  sampai di sana yang kebeli bukan barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Hanya membeli yang dibutuhkan.

Hari ini misalnya, budget senin itu untuk masak masakan ini ; ikan, sayur, perkedel, sambal dll, maka saat ke pasar pun bawa aja uang secukupnya untuk membeli bahan yang dibutuhkan. Karena terkadang tuh kita khilaf pengen dibeli aja semua, padahal untuk bahan makanan ada batas penyimpanannya, eh pas kita terserang pikun “astagaa ternyata 3 hari lalu saya beli sayur ini ya, lupa masaknya. 

Tau-taunya si sayur udah layu dan busuk, alhasil jadi mubazir bahan makanan yang kita belanjakan tadi. Padahal sebenarnya kita bisa menyiasati hal itu dengan “ Belanja dapur Seperlunya saja ” Bisa juga disiasati dengan cara Food Prep, jadi buibuk tetap bisa belanja banyak tapi penyimpanannya harus baik, biar bahan makannya tidak cepat rusak. Food Prep : Bahan makanan dimasukkan ke dalam kotak-kotak plastik penyimpanan sebelum dimasukkan ke kulkas.


Ketiga : Miliki Tabungan Bersama

Seperti yang saya ceritakan di awal tadi, kalau saya mengelola separuh gaji pak suami dan mengelola sepenuhnya gajiku. Tapi kalau urusan menabung tetap kita lakukan bersama dengan membuka rekening tabungan lain selain dari rekening gaji saya, rekening gaji pak suami. 

Tabungan bersama namanya” siapa yang mengisinya ?? Bebas. Bisa istri bisa suami, bulan ini saya transfer segini, kalau lagi ada bonus saya tambahin lagi, begitu pun pak suami. Yang penting kita sudah komitmen kalau 30 % dari penghasilan harus masuk ke tabungan bersama. Untuk pemilihan banknya tergantung dari tiap-tiap pasangan suka excellent service dari bank yang mana.

Oh iya, untuk tabungan bersama ini kami gak menggunakannya untuk kebutuhan tersier ya. Seperti liburan atau membeli barang mewah. Saya dan pak suami sepakat kalau liburan masuk ke kebutuhan tersier kami. Yang hanya dilakukan kalau kita memperoleh tambahan uang dari hasil bisnis yang ada.


Keempat : Dana Darurat Minimal 3x Penghasilan

Apa sih dana darurat itu ? sama gak dengan tabungan ? kalau saya pribadi akan menjawab beda, meski pada konteksnya sama-sama berbentuk tabungan. Yang pertama, dana darurat dapat dipakai kapan saja, sedangkan tabungan bersama tidak selamanya bisa. Saya beri contoh dengan kondisi saya dimana pak suami itu setiap bulan harus ke makassar mengikuti perkuliahan dan harus naik pesawat udara agar menghemat waktu. Yang sudah pasti membutuhkan biaya selain kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Maka saya mengambil alokasi dana ini dari dana darurat, dimana sebaiknya sih kita punya dana darurat minimal 3x penghasilan setiap bulan. Kita juga gak pernah tahu kan kondisi apa yang kita hadapi dikemudian hari, alih-alih ada keluarga yang meminta tolong atau ada yang sedang kedukaan sudah pasti wajib kita bantu maka disinilah dana darurat itu berperan. Atau semisal juga ada teman yang lagi bikin hajatan karena baru aja lahiran, di sini dana darurat juga berperan kita musti beli hadiah, beli kado untuk teman yang nikahan.





Kelima : Proteksi Tulang Punggung Keluarga

Apa sih proteksi tulang punggung keluarga itu ? Dikerenakan kepala keluarga adalah tulang punggung yang menopang keluarga, maka sudah pasti dia membutuhkan perlindungan yang maksimal juga terhadap hidupnya. Pagi hingga malam di luar rumah, senin hingga sabtu terkadang masih bekerja. 

Bisa dibayangin gak sih perjuangan dia untuk keluarga. Hal-hal yang tak terduga selalu mengintai kapan saja. Yok ayokk buibuk dipeluk dulu suaminya. Nah karena kita sadar akan hal itu, maka sebagai istri harus berinisatif melindungi kepala keluarga. 

Melindunginya dengan cara apa ?? Beli asuransi jiwa.

Banyak kok perusahaan asuransi yang bagus di Indonesia. Tinggal kita memilih UP yang kita inginkan, ada yang berbentuk Unitlink dimana ia termasuk asuransi jiwa namun bundling dengan investasi juga. Karena asuransi jiwa itu memiliki prinsip semakin muda usia kita membelinya, maka premi yang kita bayarkan perbulannya juga akan semakin rendah. Coba deh cari tau tentang Life Insurance.

Pak, kalau sayang sama keluarga jangan lupa ya… pertimbangkan poin ini.






Keenam : Asuransi Kesehatan Untuk Seluruh Anggota Keluarga

Kejadian yang tidak terduga lainnya adalah “ Sakit ”. Kondisi sakit juga mengintai setiap anggota keluarga kita. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan menderita suatu penyakit. Apalagi kalau sedang musim pancaroba, resiko kita menjadi lebih besar. Ketika Imunitas menurun, Tubuh sedang kelelahan dapat memicu kesehatan kita menjadi terganggu.

Lantas, kalau sakit musti gimana ? Ya sudah pasti harus berobat. Jaman dulu di saat orang-orang belum tergugah memiliki asuransi kesehatan. Kondisi sakit tidak jarang lho membuat ekonomi keluarga menjadi goyah. Karena jaman dulu berobat itu memerlukan biaya yang tinggi dan hanya dilakukan oleh kelas menengah ke atas. 

Oleh karena itu, Pak Buk.. ayo lindungi keluarga kita ya dari kondisi ini. Jangan menunda Membeli asuransi kesehatan. Apalagi sekarang pemerintah sudah punya Badan tersendiri lho untuk mengelola pembiayaan kesehatan di negara kita. Sudah pada tahu KIS kan ? Kartu Indonesia Sehat yang merupakan Program Jaminan Kesehatan Nasional dan dikelola oleh BPJS Kesehatan ?

Jangan tunda lagi ya untuk memiliki perlindungan kesehatan terhadap keluarga. Dan sifat kepesertaan menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional ini merupakan suatu kewajiban lho untuk setiap warga Negara Indonesia. Jika ingin punya asuransi kesehatan yang lain selain JKN-KIS boleh kok, kalau perlu beli yang premium tapi untuk keanggotaan JKN-KIS kudu wajib ya. Kalau saran saya sih, miliki yang wajib dulu, health insurance tambahannya bisa menyusul.




“ Menjaga Kesehatan Saya hari ini, memberi saya harapan yang lebih baik di hari Esok “   –Anne Wilson Schaef-


Dan orang yang mengabaikan kesehatan dirinya adalah orang yang menabung masalah untuk masa depannya.    –Anonim-
 


Ketujuh : Jangan Terpengaruh Investasi Bodong

Sebagai poin penutup ini adalah hal yang sangat penting. Hati-hati dengan investasi yang berkedok keuntungan cepat, keuntungan banyak. Tanpa menganalisa produk investasi tersebut. Banyak loh, orang –orang diluar sana jatuh miskin, anak-anak dan keluarga mereka terlantar karena kepala keluarga suami dan istri terpengaruh dengan hal semacam ini.

Intinya tetap jaga komunikasi ke pasangan. Jangan investasi dengan sembunyi-sembunyi, alih –alih dapat untung kalau malah buntung gimana ? kan, keluarga juga yang jadi korbannya. Sayapun sering takut kalau ada teman atau orang yang menawari saya bisnis-bisnis kekinian. Jawaban pamungkas saya “ Nanti Saya Bilang Suami Dulu “  Karena emang benar, saya musti kordinasikan itu bareng suami apalagi soal uang dan investasi.


Susah-susah gampang memang kalau kita berbicara tentang uang apalagi dengan pasangan. Takut dia tersinggung, eh tau-taunya kita sendiri yang malah tersinggung duluan, masalah keuangan memang sangat sensitive bagi sebagian orang. Termasuk saya sendiri. 

Saat saya berusaha memperbaiki itu bersama suami. Sangat-sangat butuh perjuangan mental.
Ya wesslah jangan suka tersinggung.
Kita lagi gak main drama, kita lagi menghadapi kehidupan nyata nih
Jangan banyak baper, kataku pada pak suami.

Baper sekarang bisa berbuah penyesalan nanti. Ayoklah kita main buka-bukaan soal uang. Jangan hanya buka-bukaan pas di ranjang. 


 Bicara keuangan jangan menjadi asing, jangan menjadi risih. 


Kita perlu belajar, kita perlu menyatukan pikiran, kita perlu berdiskusi, kita perlu bertukar argumentasi. Semoga ke depan kami bisa bertahan dan terus belajar. Harapan yang tidak pernah muluk-muluk agar dekat dengan pelupuk.



Selamat berdiskusi soal uang, Selamat menjalani hari ini.
Minggu, 27 Januari 2019

5 Pahit - Manis Berumah Tangga Di Perantauan








Seperti yang pernah saya ceritakan di bulan April 2018 lalu kalau suami harus berpindah tugas ke Sulawesi tenggara dan saya pun harus ikut mendampinginya di sana. Melanjutkan cerita saya tentang pindahan dan hal-hal yang saya rasakan selama berumah tangga di perantauan kurang lebih meninggalkan rasa pahit-manis untuk saya dan suami. Karena bisa dibilang susah-susah gampang lho, apalagi kami sebagai pasangan muda yang baru menginjak daerah yang baru yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi sama sekali.

Proses adaptasi pak suami bisa dikatakan lebih cepat daripada saya sendiri, dia lebih cepat bergaul, lebih cepat menghapal jalan, lebih cepat cocok dengan cuaca di sini, lebih cepat cocok dengan jajanan makanan di sini, jauh beda dengan saya yang membutuhkan proses yang lumayan dari segi waktu. Agak-agak sering kaget juga sih kalau dengar penduduk lokal berdialeg, soalnya banyak istilah-istilah yang baru saya dengar sepanjang hidup saya.

Saya dan pak suami sejujurnya belum pernah terpikir akan merantau bersama, dulu sempat saya dan suami punya perjanjian pranikah, mengingat dia sebagai seorang abdi negara yang sewaktu-waktu bisa berpindah tempat tugas, jikalau dimanapun ia pindah nanti, saya tetap aja di kota makassar dan berkarir di kota makassar saja. Jeng.. jeng.. perjanjian sesungguhnya adalah perjanjian namun, Apalah artinya jika hanya dibibir saja..hahaha. ( Perjanjian itu seketika terlupakan karena rasa cinta *tsahh)

Tak terasa hampir setahun sudah kami berada di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara. Ritme hidup yang sudah pasti banyak berubah. Kalau dulu terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan hidup di Kota Makassar, sekarang ini kami harus membiasakan diri dengan lingkungan baru. Banyak pelajaran baik yang bisa kami rasakan dampaknya secara langsung untuk kami berdua tak jarang juga pada moment tertentu ada hal yang menyentuh palung terdalam hati kami masing-masing.


Lebih Mandiri dan Merasa Lebih Dewasa

Jujur saya sangat merasakan perubahan ini, waktu masih stay di kota Makassar saya masih banyak bergantung dengan orang-orang yang berada di inner circle orangtuaku, semisal terkadang pakaian kotor yang kadang seminggu itu saya bawa ke rumah ortu biar di cuci di sana aja, pikiranku waktu itu. Ya udahlah yang bantu di rumah mama banyak kok, ARTnya ada dua, bisalah saya titip saja di sana. Tanpa ada pikiran sama sekali kalau itu malah memperberat pekerjaan orang lain, padahal yang nge-gaji ARTnya mama. Bukan saya.

Dulu ya cuek saja, toh mama sendiri yang menawarkan. Tapi setelah saya berada jauh dari keluarga besar seperti sekarang ini. Baru deh, perasaan bersalah itu muncul satu persatu “ Harusnya dulu saya gak boleh begitu”
Harusnya gak perlu saya ngerepotin orang lain ” padahal bisa dicuci sendiri, ada mesin cuci, tinggal neken tombol aja, terus di jemur. “ Ya udah akui saja kamu memang males cinta ” dan saya mulai menyalahkan diri sendiri.

Sekarang setelah benar-benar jauh dan hanya berdua dengan pak suami, semuanya musti dikerjain sendiri. Mulai dari bangun pagi sampai ketemu pagi, semuanya adalah tugasku sebagai istri, berkahnya perubahan baik yang bisa saya rasakan dari suamiku adalah dia tidak segan membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Boro-boro dulu dia mau nyuci ataukah sekedar ngerapihin lemari. Tapi semenjak di sini, setiap weekend itu dia udah membagi tugas rumah tangga. 


“ Saya aja ya yang nyuci sama jemur “
“ Kamu masak saja sama nyapu habis itu mandi terus istirahat “
“ Nanti saya yang nunggu jemurannya, siapa tahu tiba-tiba hujan “


MasyaAllah… dalam hati saya. Si anak bapak benar - benar berubah karena drama perantauan ini.


Sering Home Sick

Kalau drama home sick gak usah ditanya lagi. Siapa yang paling home sick ? sudah pasti jawabannya saya. Pertama kali merantau ikut suami, gak pernah bepergian sendirian kalau gak bareng orangtua. Baru pertama kali pisah selama ini sama orang rumah apalagi mama. Bikin saya sering ngerasain home sick yang parah. Tidak jarang saya tiba-tiba membenamkan muka saya di bantal kalau perasaan ini sedang muncul, bahkan kalau saya tiba-tiba rewel gak jelas. Banyak permintaan sama suami. Minta pijet lah, minta dibuatkan teh jahe, pengen makan ini, pengen makan itu. Dia pasti langsung bilang
“ Ahh.. kamu rindu mama ini kalau begini “

Syukurnya dia gak pernah ngomel sih kalau saya lagi banyak maunya, hahaha. Dia udah ngerti gimana rasanya nikah sama bungsu. Karena saya juga ngerasain hal yang sama. Kalau manjanya dia lagi kumat, saya harus banyak-banyak sabar, ya gini resikonya nikah sama-sama anak bungsu. Masing-masing kecanduan untuk dimanja, diperhatikan dan dimengerti.


Jauh Dari Inner-Circle

Salah satu hal yang paling terasa adalah jauh dari teman-teman dekat. Kalau Dulu ada kabar di group janjian mau ketemuan atau lagi ada event komunitas langsung meluncur ke tempat kejadian perkara apalagi kalau pas lagi free time. Belum lagi  nyesseknya itu kalau ada temen yang nikah dan dia itu dateng pas saya nikahan dulu rasanya gimana ya, gak sempat hadir itu seperti hutang buat saya. Kalau saya kerjanya di makassar sih, mungkin bisa ijin sejam dua jam untuk hadir. Sementara keberadaanku sekarang ini musti naik pesawat dulu, belum lagi proses ijinnya yang lumayan sulit.






Bertemu Orang-Orang Baru

Suatu Kesyukuran lagi  setelah menikah pak suami tidak membatasi saya dalam berkarier. Ikut mendampinginya di sini. Dia masih memperbolehkan saya menjalani profesiku. Meski sebenarnya kalau saya pribadi, pengen jadi Ibu rumah tangga seutuhnya kalau saat itu saya gak bisa dapat penempatan di Bau-Bau.

Saya sempat ngomong gini sama pak suami “ Gak papa lah, saya di rumah saja, banyak yang bisa dikerjakan kok, di rumah saja lah nunggu kamu pulang, biar saya bisa maksimal ngurus kamu ”  Alhamdulillah penghasilan kamu lebih dari cukup menghidupi keluarga, kita masih bisa nabung, kamu bisa sekolah, bisa ke makassar jenguk orang rumah, gak papalah saya di rumah saja. “

Lalu pak suami berkata “ Ya bukan soal penghasilannya, dulu kamu pas masih sekolah kedokteran, kita juga udah nikah.  Toh juga kan Alhamdulillah cukup kan, sekarang saya gak permasalahkan penghasilan, sayang sekali kamu capek-capek sekolah, dulu sampai ninggalin saya untuk jaga malam, kamu begadang untuk ujian, saya sampai gak tega liat kamu mengurung diri belajar untuk ujian nasional waktu itu.

Sekarang kamu malah gak mau pergunakan profesimu, masalah penghasilan kamu, saya gak musingin, saya gak pernah nyariin kan, kamu mau kasi ke siapa itu hak kamu, kamu mau beli apa yang kamu suka saya gak masalah, toh juga dari dulu begitu.

Kita gak pernah ribut dengan hal-hal seperti ini. Saya percaya kamu bisa menyeimbangkan peranmu sebagai istri tanpa terganggu sedikit pun dengan pekerjaanmu. Saya yakin kamu bisa kok. Selama ini kamu juga sudah cukup mengerti dengan pekerjaanku maka saya juga akan melakukan hal yang sama untuk kamu.

 “ Yang penting jangan sia-siakan profesimu, itu saja.


“ Saya mau istriku juga bermanfaat untuk orang lain.


Saya tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengarkan ucapan pak suami. Saya hanya bisa langsung memeluk dia dari belakang, sambil bilang “ Terima kasih “ Telah menjadi separuh dari hidupku dan menjadi orang yang paling mengerti “







Lebih Intim Dengan Pasangan

Hidup berdua. Berada jauh dari keluarga besar. Membuat saya dan suami mengerti dan belajar banyak hal, terkhusus menjalani tahun-tahun awal pernikahan dimana merupakan tahun yang penuh dengan cobaan-cobaan kecil hingga cobaan besar yang datang silih berganti. Ada yang bilang menuju tahun kelima pernikahan merupakan fase awal dan masa kritis. Kalau cocok lanjut, kalau gak cocok biasanya bubar begitu saja.

Umur pernikahan yang memasuki tahun ke-empat sedikit banyak saya pun merasakan hal itu. 
Yaa.. harus lebih menoleransi terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan pasangan, jangan membesar-besarkan masalah dan tentunya selalu menumpuk banyak sabar. Dua orang disatukan dalam satu rumah, kebiasaan yang dibawa dalam diri masing-masing berbeda memerlukan ruang toleransi yang luas seperti ;


Yang salah minta Maaf yang dimintai Maaf Memaafkan “ 


Kurang lebih setahun kami di sini, kami merasa semakin dekat satu sama lain. Sudah tidak gengsi meminta tolong. Beda saat kami masih Stay di makassar waktu itu. Berangkat aktifitas bisa dibilang jarang banget sama-sama padahal jamnya sama : harus berangkat pagi.

Ya, karena masih berfikiran. Saya mau bawa kendaraan sendiri, siapa tahu pulang mau singgah di sini, mau beli ini, mau beli itu. Mau jalan sama teman waktu kuliah dulu. Bawa kendaraan masing-masing saja, karena banyak yang mau disinggahi ketika pulang.






Bisa dihitung jari frekuensi kami berangkat bersama. Apalagi untuk sekedar pulang bersama. Saya sibuk—kamu sibuk. Yaa sudahlah ketemunya di rumah saja.

Namun, selama pindahan ke sini. Hampir tiap hari kami berangkat bareng. Dia harus di kantor jam 8, saya harus di Rumah Sakit Jam 7 pagi. Kadang-kadang gak sempat sarapan di rumah, kita masih sempat sarapan bareng di luar. Sebelum pak suami nganterin saya. Pulang pun begitu. 

Kami lebih sering pulang bareng. Ya mau gimana, di sini gak ada taksi online seperti di makassar, transportasi masih kebanyakan naik ojek motor. Sementara saya takut naik motor di boncenginnya sama orang yang gak dikenal apalagi saya  ini pendatang. 

Jadi ya udah, nunggu suami pulang baru saya pulang. Kami jadi bergantung satu sama lain.
Kalau lagi libur ngantor dan saya libur jaga, kita pun banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama.


Sudah hampir setahun pindahan gak boleh drama-drama lagi. Ala bisa karena terbiasa
hehehe...  dan sepertinya saya jatuh cinta dengan kota ini.



Jangan lupa bahagia, selamat menjalani hari ini.



Selasa, 22 Januari 2019

5 Kuliner Khas Makassar Yang Selalu Membuat Rindu



Pixels.co dikolaborasi oleh canva



“ Hari ini kita makan di Luar saja yaa"

" Saya Lagi Kangen Makan Coto..

Celetuk si pak suami yang sedang menikmati secangkir kopi di teras rumah.

Hari ini memang hari sabtu, waktunya dia rehat dari aktifitas kantor.
Sabtu-minggu bisa dibilang merupakan waktu yang sakral bagi kami berdua. Jauh hari sudah banyak jadwal yang disusun untuk hari sabtu dan minggu. Nonton film baru, menemaninya cukur rambut hingga ke pasar bersama mencari bahan makanan untuk seminggu. ( Ya maklumlah emak-emak gak mau repot seorang diri hahaha )

Ketika weekend seperti ini tidak ada sanak saudara yang bisa dikunjungi untuk sekedar icip-icip masakan kakak Ipar atau ibu mertua. Jadi gak ada kata libur masak selama di sini. Padahal kalau kami lagi di Makassar, Di Weekend seperti ini undangan makan-makan dari saudara dan orangtua sudah mengantri untuk didatangi. Kalau ingat  akan hal ini sungguh ku ingin pulang.

Kebetulan saya dan suami sama-sama yang paling muda di keluarga,
sama-sama anak bungsu di keluarga kami masing-masing. Jadi wajar sih bila kakak-kakak dan orangtua  selalu mencari kami bahkan jika kami hanya sekedar say-hello saja di rumah mereka, mereka sudah senang dan bahagia sekali. Yang muda yang mendatangi yang lebih tua. Kira - kira begitu kebiasaan keluarga saya dan pak suami.


Biarkan  postur tubuh orang-orang di foto ini berbicara betapa hobinya kami makan-makan-- ngumpul--cerita--happy--

Dibesarkan di keluarga Bugis - Makassar, saya dan suami memang hobi kulineran. Kalau ada acara ngumpul-ngumpul sudah pasti ada makan-makan. Kalau sedang gak ada makanan pas ngumpul, pasti sudah ada yang berinisiatif memesan makanan entah itu lewat layanan pesan antar ataukah memang sudah dipesan sejak jauh hari. 

Pokoknya Ngumpul------Makan----Cerita----happy--



Ahh… Tiba-tiba kok jadi rindu Kota Makassar

( Sabarr…. Sabar… Cuti sebentar lagi )

Selama hampir setahun di Kota Bau-Bau Kepulauan buton, jujur saja saya masih agak susah mencari kuliner yang rasanya pas di lidah saya.
Yaa, ada sih beberapa yang rasanya lumayan.
Tetap bersyukur juga meski sedang jauh dari keluarga besar seperti sekarang, kami masih diberi rezeki untuk menikmati jajanan kuliner yang ada di kota ini. Walau tak sebanding rasanya dengan kuliner yang ada di kota kelahiran kami. Kota Makassar.

Nah, kan jadi semakin Rindu….

Beberapa kuliner khas Makassar yang selalu membuat saya rindu itu….

Coto Makassar



Coto Makassar merupakan makanan wajib ada saat hari raya besar seperti Idul Fitri dan Idul adha di Keluarga kami. Kalau kalian gimana ? hihi jika hari biasa saja dan ingin makan Coto Makassar, saya dan pak suami biasanya mengunjungi warung coto makassar yang dekat dari rumah ; Coto Lamuru ataukah Coto Nusantara. Kedua warung coto ini merupakan favorit kami, selain karena letaknya gak terlalu jauh dari rumah. Rumah saya di Jalan Sunu, Lumayan dekatlah Jalan Sunu – Jalan Lamuru ataukah Jalan sunu---Jl.Sulawesi-Nusantara. Kuah cotonya andalan semualah sampai rela-rela ngantri saat hari minggu pagi ketika nafsu makan pengennya hanya coto makassar.

Pallubasa



Mau cerita sedikit tentang pallubasa, sebenarnya awal mencoba makanan ini saya gak begitu suka karena menurutku kuahnya terlalu banyak mengandung minyak. Apalagi ditambahin lagi dengan Serundeng kelapanya itu, wah… wah.. awal nyobain pallubasa, saya agak sedikit ennek. Tapi lama kelamaan dan keseringan nemenin suami makan Pallubasa, mulai terbiasa di lidah saya. Favorit suami itu kalau lagi pengen makan Pallubasa biasanya di Pallubasa jalan Serigala dan yaa.. makin ke sini malahan saya yang doyan banget eh suami malah yang sekarang udah bosen sama pallubasa. Hidup ini memang sungguh penuh misteri sodara-sodara.





Bakso Ati Raja




Saya termasuk orang yang doyan sama makanan berkuah apalagi kalau cuaca sedang mendung sehabis hujan, wah.. wah.. selain enaknya pelukan makan bakso juga termasuk salah satu kenikmatan lho. 
Oke kembali ke bakso. Bakso yang menurutku sangat-sangat menggoyang lidah saya itu Bakso Ati Raja, paling suka sama bakso gorengnya yang merupakan ciri khas dari bakso Ati Raja, bakso halusnya juga sangaaat terasa dagingnya. Kalau lagi ke rumah keluarga di Luar makassar, pasti banyak yang sering menitip bakso ini sebagai oleh-oleh.
Kalau sahabat gimana ? suka juga gak ?

Sate Gunung Merapi
           





Sate gunung merapi ini saya tahunya dari mertua saya, dia sangat suka sekali memesan sate gunung merapi kalau di rumah sedang ada acara keluarga. Ya bisa dibilang nanti habis nikah sama pak suami baru saya tahu kalau ada sate yang seenak ini di lidahku, ughhh… gak bisa saya jelaskan lagi gimana favoritnya saya dengan sate ini. Dagingnya itu lebih besar daripada sate pada umumnya, lembut, bumbu kacang dari satenya juga kerasa banget. Ya menurutku bedalah. Ah… jadi pengen pulang huhuhu


Baca juga : Cerita teman saya lelaki bugis 5 menu Buka puasa ala makassar yang bikin kangen


Mie Awa"




Awalnya masih agak susah saya membedakan bagaimana rasa mie awa’dan mie titti’, Keduanya merupakan mie kering khas makassar. Soalnya dari segi penampakannya itu hampir sama, tapi lama-kelamaan. Karena udah keseringan makan kedua jenis makanan ini, saya sudah bisa paham perbedaannya. Menurutku Mie awa' itu isian kuah mienya lebih banyak dari Mie Titti, seperti potongan bakso gorengnya, bakso biasa, daging, isian seafoodnya lebih banyak juga kuahnya itu lebih gurih. Kalau mie titti yang saya rasa sih banyakan sayurnya  akhir-akhir ini, isiannya mulai berkurang. Entahlah mengapa, apakah cuma saya yang merasakan perbedaan itu.



Kalau teman-teman gimana ? apa makanan khas makassar yang paling kalian rindukan ??












Custom Post Signature