Minggu, 27 Januari 2019

5 Pahit - Manis Berumah Tangga Di Perantauan








Seperti yang pernah saya ceritakan di bulan April 2018 lalu kalau suami harus berpindah tugas ke Sulawesi tenggara dan saya pun harus ikut mendampinginya di sana. Melanjutkan cerita saya tentang pindahan dan hal-hal yang saya rasakan selama berumah tangga di perantauan kurang lebih meninggalkan rasa pahit-manis untuk saya dan suami. Karena bisa dibilang susah-susah gampang lho, apalagi kami sebagai pasangan muda yang baru menginjak daerah yang baru yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi sama sekali.

Proses adaptasi pak suami bisa dikatakan lebih cepat daripada saya sendiri, dia lebih cepat bergaul, lebih cepat menghapal jalan, lebih cepat cocok dengan cuaca di sini, lebih cepat cocok dengan jajanan makanan di sini, jauh beda dengan saya yang membutuhkan proses yang lumayan dari segi waktu. Agak-agak sering kaget juga sih kalau dengar penduduk lokal berdialeg, soalnya banyak istilah-istilah yang baru saya dengar sepanjang hidup saya.

Saya dan pak suami sejujurnya belum pernah terpikir akan merantau bersama, dulu sempat saya dan suami punya perjanjian pranikah, mengingat dia sebagai seorang abdi negara yang sewaktu-waktu bisa berpindah tempat tugas, jikalau dimanapun ia pindah nanti, saya tetap aja di kota makassar dan berkarir di kota makassar saja. Jeng.. jeng.. perjanjian sesungguhnya adalah perjanjian namun, Apalah artinya jika hanya dibibir saja..hahaha. ( Perjanjian itu seketika terlupakan karena rasa cinta *tsahh)

Tak terasa hampir setahun sudah kami berada di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara. Ritme hidup yang sudah pasti banyak berubah. Kalau dulu terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan hidup di Kota Makassar, sekarang ini kami harus membiasakan diri dengan lingkungan baru. Banyak pelajaran baik yang bisa kami rasakan dampaknya secara langsung untuk kami berdua tak jarang juga pada moment tertentu ada hal yang menyentuh palung terdalam hati kami masing-masing.


Lebih Mandiri dan Merasa Lebih Dewasa

Jujur saya sangat merasakan perubahan ini, waktu masih stay di kota Makassar saya masih banyak bergantung dengan orang-orang yang berada di inner circle orangtuaku, semisal terkadang pakaian kotor yang kadang seminggu itu saya bawa ke rumah ortu biar di cuci di sana aja, pikiranku waktu itu. Ya udahlah yang bantu di rumah mama banyak kok, ARTnya ada dua, bisalah saya titip saja di sana. Tanpa ada pikiran sama sekali kalau itu malah memperberat pekerjaan orang lain, padahal yang nge-gaji ARTnya mama. Bukan saya.

Dulu ya cuek saja, toh mama sendiri yang menawarkan. Tapi setelah saya berada jauh dari keluarga besar seperti sekarang ini. Baru deh, perasaan bersalah itu muncul satu persatu “ Harusnya dulu saya gak boleh begitu”
Harusnya gak perlu saya ngerepotin orang lain ” padahal bisa dicuci sendiri, ada mesin cuci, tinggal neken tombol aja, terus di jemur. “ Ya udah akui saja kamu memang males cinta ” dan saya mulai menyalahkan diri sendiri.

Sekarang setelah benar-benar jauh dan hanya berdua dengan pak suami, semuanya musti dikerjain sendiri. Mulai dari bangun pagi sampai ketemu pagi, semuanya adalah tugasku sebagai istri, berkahnya perubahan baik yang bisa saya rasakan dari suamiku adalah dia tidak segan membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Boro-boro dulu dia mau nyuci ataukah sekedar ngerapihin lemari. Tapi semenjak di sini, setiap weekend itu dia udah membagi tugas rumah tangga. 


“ Saya aja ya yang nyuci sama jemur “
“ Kamu masak saja sama nyapu habis itu mandi terus istirahat “
“ Nanti saya yang nunggu jemurannya, siapa tahu tiba-tiba hujan “


MasyaAllah… dalam hati saya. Si anak bapak benar - benar berubah karena drama perantauan ini.


Sering Home Sick

Kalau drama home sick gak usah ditanya lagi. Siapa yang paling home sick ? sudah pasti jawabannya saya. Pertama kali merantau ikut suami, gak pernah bepergian sendirian kalau gak bareng orangtua. Baru pertama kali pisah selama ini sama orang rumah apalagi mama. Bikin saya sering ngerasain home sick yang parah. Tidak jarang saya tiba-tiba membenamkan muka saya di bantal kalau perasaan ini sedang muncul, bahkan kalau saya tiba-tiba rewel gak jelas. Banyak permintaan sama suami. Minta pijet lah, minta dibuatkan teh jahe, pengen makan ini, pengen makan itu. Dia pasti langsung bilang
“ Ahh.. kamu rindu mama ini kalau begini “

Syukurnya dia gak pernah ngomel sih kalau saya lagi banyak maunya, hahaha. Dia udah ngerti gimana rasanya nikah sama bungsu. Karena saya juga ngerasain hal yang sama. Kalau manjanya dia lagi kumat, saya harus banyak-banyak sabar, ya gini resikonya nikah sama-sama anak bungsu. Masing-masing kecanduan untuk dimanja, diperhatikan dan dimengerti.


Jauh Dari Inner-Circle

Salah satu hal yang paling terasa adalah jauh dari teman-teman dekat. Kalau Dulu ada kabar di group janjian mau ketemuan atau lagi ada event komunitas langsung meluncur ke tempat kejadian perkara apalagi kalau pas lagi free time. Belum lagi  nyesseknya itu kalau ada temen yang nikah dan dia itu dateng pas saya nikahan dulu rasanya gimana ya, gak sempat hadir itu seperti hutang buat saya. Kalau saya kerjanya di makassar sih, mungkin bisa ijin sejam dua jam untuk hadir. Sementara keberadaanku sekarang ini musti naik pesawat dulu, belum lagi proses ijinnya yang lumayan sulit.






Bertemu Orang-Orang Baru

Suatu Kesyukuran lagi  setelah menikah pak suami tidak membatasi saya dalam berkarier. Ikut mendampinginya di sini. Dia masih memperbolehkan saya menjalani profesiku. Meski sebenarnya kalau saya pribadi, pengen jadi Ibu rumah tangga seutuhnya kalau saat itu saya gak bisa dapat penempatan di Bau-Bau.

Saya sempat ngomong gini sama pak suami “ Gak papa lah, saya di rumah saja, banyak yang bisa dikerjakan kok, di rumah saja lah nunggu kamu pulang, biar saya bisa maksimal ngurus kamu ”  Alhamdulillah penghasilan kamu lebih dari cukup menghidupi keluarga, kita masih bisa nabung, kamu bisa sekolah, bisa ke makassar jenguk orang rumah, gak papalah saya di rumah saja. “

Lalu pak suami berkata “ Ya bukan soal penghasilannya, dulu kamu pas masih sekolah kedokteran, kita juga udah nikah.  Toh juga kan Alhamdulillah cukup kan, sekarang saya gak permasalahkan penghasilan, sayang sekali kamu capek-capek sekolah, dulu sampai ninggalin saya untuk jaga malam, kamu begadang untuk ujian, saya sampai gak tega liat kamu mengurung diri belajar untuk ujian nasional waktu itu.

Sekarang kamu malah gak mau pergunakan profesimu, masalah penghasilan kamu, saya gak musingin, saya gak pernah nyariin kan, kamu mau kasi ke siapa itu hak kamu, kamu mau beli apa yang kamu suka saya gak masalah, toh juga dari dulu begitu.

Kita gak pernah ribut dengan hal-hal seperti ini. Saya percaya kamu bisa menyeimbangkan peranmu sebagai istri tanpa terganggu sedikit pun dengan pekerjaanmu. Saya yakin kamu bisa kok. Selama ini kamu juga sudah cukup mengerti dengan pekerjaanku maka saya juga akan melakukan hal yang sama untuk kamu.

 “ Yang penting jangan sia-siakan profesimu, itu saja.


“ Saya mau istriku juga bermanfaat untuk orang lain.


Saya tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengarkan ucapan pak suami. Saya hanya bisa langsung memeluk dia dari belakang, sambil bilang “ Terima kasih “ Telah menjadi separuh dari hidupku dan menjadi orang yang paling mengerti “







Lebih Intim Dengan Pasangan

Hidup berdua. Berada jauh dari keluarga besar. Membuat saya dan suami mengerti dan belajar banyak hal, terkhusus menjalani tahun-tahun awal pernikahan dimana merupakan tahun yang penuh dengan cobaan-cobaan kecil hingga cobaan besar yang datang silih berganti. Ada yang bilang menuju tahun kelima pernikahan merupakan fase awal dan masa kritis. Kalau cocok lanjut, kalau gak cocok biasanya bubar begitu saja.

Umur pernikahan yang memasuki tahun ke-empat sedikit banyak saya pun merasakan hal itu. 
Yaa.. harus lebih menoleransi terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan pasangan, jangan membesar-besarkan masalah dan tentunya selalu menumpuk banyak sabar. Dua orang disatukan dalam satu rumah, kebiasaan yang dibawa dalam diri masing-masing berbeda memerlukan ruang toleransi yang luas seperti ;


Yang salah minta Maaf yang dimintai Maaf Memaafkan “ 


Kurang lebih setahun kami di sini, kami merasa semakin dekat satu sama lain. Sudah tidak gengsi meminta tolong. Beda saat kami masih Stay di makassar waktu itu. Berangkat aktifitas bisa dibilang jarang banget sama-sama padahal jamnya sama : harus berangkat pagi.

Ya, karena masih berfikiran. Saya mau bawa kendaraan sendiri, siapa tahu pulang mau singgah di sini, mau beli ini, mau beli itu. Mau jalan sama teman waktu kuliah dulu. Bawa kendaraan masing-masing saja, karena banyak yang mau disinggahi ketika pulang.






Bisa dihitung jari frekuensi kami berangkat bersama. Apalagi untuk sekedar pulang bersama. Saya sibuk—kamu sibuk. Yaa sudahlah ketemunya di rumah saja.

Namun, selama pindahan ke sini. Hampir tiap hari kami berangkat bareng. Dia harus di kantor jam 8, saya harus di Rumah Sakit Jam 7 pagi. Kadang-kadang gak sempat sarapan di rumah, kita masih sempat sarapan bareng di luar. Sebelum pak suami nganterin saya. Pulang pun begitu. 

Kami lebih sering pulang bareng. Ya mau gimana, di sini gak ada taksi online seperti di makassar, transportasi masih kebanyakan naik ojek motor. Sementara saya takut naik motor di boncenginnya sama orang yang gak dikenal apalagi saya  ini pendatang. 

Jadi ya udah, nunggu suami pulang baru saya pulang. Kami jadi bergantung satu sama lain.
Kalau lagi libur ngantor dan saya libur jaga, kita pun banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama.


Sudah hampir setahun pindahan gak boleh drama-drama lagi. Ala bisa karena terbiasa
hehehe...  dan sepertinya saya jatuh cinta dengan kota ini.



Jangan lupa bahagia, selamat menjalani hari ini.



19 komentar on "5 Pahit - Manis Berumah Tangga Di Perantauan"
  1. jadi ingat pernah punya pembagian tugas domestik seperti Bu Dokter dan suami, siapa yang mencuci siapa yang menjemur, siapa yang masak siapa yang cuci piring dan lain-lain, bersama dia yang tak boleh disebutkan namanya hahaha.

    BalasHapus
  2. Sayapun kak dirumah ada pembagian sama ettanya sudais 😂 siapa yang tugasnya ini dan siapa yang tugasnya itu. Walau pun belum pernah merasakan diperantauan bersama, tapi tinggal bertiga pun ada pahit manisnya

    BalasHapus
  3. Indahnya hidup rumah tangga kalau saling pengertian satu sama lain. Semua yang berat dihadapi bersama. Jadi cerita yang indah untuk dibagikan kepada keluarga kelak

    BalasHapus
  4. Perjanjian hanya di mulut di, tapi cinta akan merubah segalanya. Semoga keluargata meraih sakina mawaddah warahmah. Aamiin.

    BalasHapus
  5. So romantic couple Bu dokter cinta..hehe kalau jauh dari kampung halaman saya juga biasa rasakan yang namanya home sick..apalagi kalau sakit di perantauan orang, langsung ingat mama. .

    BalasHapus
  6. ndak bisa kubayangkan kalau suatu hari nanti saya akan menikmari rumah tangga diperantauan, apakah saya akan seperri dr cinta. dr memang pasangan paling romantis yah

    BalasHapus
  7. Di rumah juga saya ada pembagian tugas domestik. Istri fokus sama urusan rumah tangga seperti masak, bersih-bersih, nyuci dll.

    Saya lebih fokus ke urusan luar seperti masalah Timur Tengah, konflik Arab-Israel, kondisinya keuangan global, atau masalah pemanasan global.

    Kira2 begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah kita saingi mi pak jokowi daeng... :D
      Tidak ke Buton ki Kunjungan Kerja ??

      Hapus
  8. Pernah tinggal di perantauan berdua dengan suami, kadang kalo pas lagi baper gitu, teringat keluarga besar di kampung halaman. Trus pas sudah punya anak, pas anak sakit, bapernya plus plus karena keluarga jauh dari kami. Cuma bisa bersapa lewat telepon. Alhamdulillah sekarang sudah semakin dekat dengan keluarga besar.

    BalasHapus
  9. karna adek saya juga kebetulan seorang dkter dan teman2nya suka berkunjung ke rumah.. saya jadi banyak dengar cerita tentang para dokter yg merantau di daerah2 terpencil untuk menolong masyarakat di sana.. ceritanya cukup menyentuh dan berkesan.. semoga menjadi langkah baik untuk menuju sukses.. Aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin... terima kasha supportnya kaks, doa yang sama untuk kak prima dan keluarga.

      Hapus
  10. Alhamdulillah sekarang kami tinggalnya di kampung orangtua saya, di Lombok. Karena di sini ada rumah orangtua yang tidak dipakai. Jadi hitungannya sih, suami yang merantau dari kampungnya. Hihihi.

    Awalnya dia bingung karena gak ada kenalan sama sekali, saya juga. Karena memang sebelumnya kami sama-sama tinggal di Makassar. Tapi seiring berjalannya waktu yaa jadi punya banyak teman..jadi terbiasa dengan ini itu di sini.

    BalasHapus
  11. pernah merasakan jadi perantauan selama 2 tahun dan angkat tangan ka hahahaha
    tapi memang dilatihki jadi mandiri dan bersikap dewasa di? ga perlu mengandalkan keluarga jauh di sana dan gak sering2 bikin khawatir, kalau ad apa2 harus ditangani sendiri supaya keluarga di kampung gak cemas

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iyee... ini hampir setahun saya rasakan sekali, sejauh ini masih bertahan entah kalau masuk di tahun kedua semoga masih juara bertahan juga wkwkwk huff

      Hapus
  12. Saya juga merasakan rasanya sebagai perantau. Bedanya, di antara kami berdua, saya ji yang merantau. Suami orang sini. Bagian yang paling berat adalah homesick. Sebelum menikah saya nyaris nda pernah jauh dari keluarga soalnya. :(

    BalasHapus
  13. Beda memang di'kak rasanya klo tinggal dekat dari orangtua dengan tidak. Menjelang 6 tahun menikah, blum pernah pi sih rasakan merantau. Jadi, yaa memang klo ada apa apa selalu tertolong dengan kehadiran keluarga dekat dekat. Hm.. semoga selalu semangat kak di perantauan. Jadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah.. aaamiiin

    BalasHapus
  14. Wah saya juga merantau kak, merantau ke Makassar. Tapi dapat istri yg org tuanya
    Menetap di makassar: hahaha.

    Tapi tetap saja prinsip2 bertahan hidup pernah saya lalui, skrg sbgai keluarga ada rutinitas bolak-balik dari rumah ke rumah mertua. Sekarang ini lebih banyak di rumah mertua. Karena ada dua baby yang perlu bantuan untuk dijaga. Hehehe.

    Semangat kak chin,

    BalasHapus
  15. Jauh dari keluarga memang bikin ki lebih mandiri, lebih dekat, lebih saling bertenggangrasa. Tapi itumi kalau sakit ki atau anak sakit, panik sendiri :D

    BalasHapus

Custom Post Signature