Jumat, 22 November 2019

Apakah Hipertensi Merupakan Penyakit Keturunan ?




Salam sehat sahabat healthies..
Tulisan kali ini kita bakalan membahas tentang penyakit hipertensi nih, seperti yang kita tahu life style jaman now sangat rentan membuat seseorang menderita hipertensi. Yuk kita bahas ya..

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik (tekanan darah yang diukur menggunakan tensi meter dan terdengar sebagai denyutan pertama) sedangkan tekanan darah diastolik (denyutan paling akhir saat dilakukan pengukuran menggunakan tensi meter) dimana hipertensi dapat terjadi jika tekanan darah >  129/90 mmg.

Apa sih Penyebab hipertensi ?
Berdasarkan penyebab hipertensi dibagi menjadi dua golongan, pertama Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang hingga kini belum diketahui penyebabnya. Hampir 95 % kasus yang ada merupakan hipertensi primer, salah satunya adalah faktor genetik atau keturunan.
Menurut banyak penelitian faktor keturunan menduduki urutan teratas. Orang tua yang hipertensi memudahkan anaknya untuk terkena hipertensi, meskipun tidak secara otomatis demikian karena pola hidup juga mempengaruhinya. Apabila orangtua kita hipertensi, tetapi kita bisa menjaga pola hidup sehat misalnya senantiasa berolahraga, mengurangi konsumsi garam dan menjalani hidup lebih rileks maka kita bisa terhindar dari hipertensi.

Selain faktor genetik, faktor lingkungan juga mempengaruhi munculnya hipertensi. Orang yang tinggal di tepi pantai (banyak mengonsumsi garam) lebih mudah terkena hipertensi daripada orang yang tinggal jauh dari pantai (sedikit mengonsumsi garam).

Kedua, hipertensi sekunder. Hipertensi golongan ini disebabkan oleh kondisi lain, seperti penggunaan hormone esterogen, penyakit ginjal, hipertensi vascular renal ( kelainan pembuluh darah ginjal ), hiperaldosteronisme primer (kelebihan hormone aldosterone), penyakit syndrome cushing, serta hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.

Sekitar 5 % dari kasus hipertensi yang ada adalah hipertensi sekunder, angka kejadian hipertensi sekunder relatif lebih sedikit jika dibandingkan hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya.
Bagaimana Gejala Klinis Hipertensi ?
Peningkatan tekanan darah terkadang merupakan satu-satunya gejala hipertensi. Betapa banyak penderita hipertensi yang tidak mengetahui dirinya hipertensi dan baru mengetahui ketika tekanan darahnya diukur. Dan adapula seseorang yang baru diketahui menderita hipertensi setelah pingsan akibat tekanan darahnya yang begitu tinggi.

Adapun beberapa gejala yang sering dikeluhkan oleh penderita hipertensi, antara lain sakit kepala, mimisan, mudah marah, telinga berdenging, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing (kepala, terasa berputar) Meskipun demikian, tidak selamanya penderita hipertensi mengalami keluhan seperti itu. Dan, jangan pula lantas berpikir kalau kita mudah marah, berarti kita menderita hipertensi.


Pemeriksaan Apa Yang Harus Dilakukan ?
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai pengobatan bertujuan untuk menentukan ada tidaknya kerusakan organ target (otak,mata,jantung dan ginjal ) serta mencari faktor risiko lain atau kemungkinan penyebab hipertensi. Biasanya pasien akan diperiksa urine lengkap, darah perifer (Hb,leukosit dan trombosit), kimia darah ( kalium, natrium, ureum, kreatinin, gula darah sewaktu, kolesterol total, HDL,Trigliserid dan asam urat serta EKG(rekaman listrik jantung).

Bagaimana Pengobatan Hipertensi ?
Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan hanya dalam satu kali pengukuran tekanan darah. Akan tetapi, harus dilakukan pengukuran lanjutan dalam waktu pemeriksaan yang berbeda, kecuali jika ada kenaikan yang sedemikian tinggi atau muncul gejala klinis.

Pengukuran tekanan darah dilakukan dalam kondisi penderita duduk bersandar atau (berbaring) setelah beristirahat selama lima menit. Jangan sehabis beraktivitas langsung diukur, karena tentu akan menghasilkan tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan setelah istirahat. Hingga saat ini, tensimeter dengan air raksa masih tetap dianggap sebagai alat pengukur tensi yang terbaik.

Selain itu, perlu dilakukan wawancara yang teliti mengenai tingkat hipertensi sebelumnya, lamanya menderita hipertensi dan penyakit lain yang menyertai (misalnya penyakit jantung coroner, gagal jantung dan penyakit serebrovaskuler atau stroke) ada atau tidaknya riwayat penyakit hipertensi dalam keluarga, riwayat merokok serta pola makan.

Perlu dilakukan deteksi dini hipertensi bagi orang-orang yang memiliki riwayat genetik hipertensi, perokok, kegemukan, berusia di atas 40 tahun, kadar kolesterol dan gula darah tinggi, serta muncul gejala klinis sebagaimana telah disebutkan di atas. Dengan demikian, dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat. Tujuan deteksi dini dan penalataksanaan hipertensi ini adalah untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler dan menurunkan angka kesakitan maupun kematian akibat hipertensi.

Sementara itu tujuan terapi adalah untuk mencapai dan mempertahankan tekanan darah sistolik di bawah 140 mmHg dan tekanan darah diastolik di bawah 90 mmHg, serta mengendalikan faktor risiko. Hal ini dicapai dengan memodifikasi gaya hidup atau dengan mengonsumsi obat hipertensi. Adapun modifikasi gaya hidup dapat dilakukan dengan cara ;

-       Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan berat badan (kegemukan)
-       Membatasi konsumsi alcohol (alangkah lebih baik jika tidak minum sama sekali)
-       Meningkatan aktivitas fisik aerobic (30-45menit/hari)
-       Mengurangi asupan konsumsi garam natrium (cukup 6 gram NaCl/hari)
-       Mempertahankan asupan kalium yang memadai (90mmol/hari) bisa diperoleh dari apel atau pisang)
-       Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang mencukupi serta
-       Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan.
 

Penalataksaan dengan obat hipertensi bagi sebagian penderita dimulai dengan dosis rendah, kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan umur, kebutuhan, dan usia. Jadi, sifatnya sangat individual. Dokter keluarga akan membantu dalam pemilihan obat ini.

Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam dan lebih disukai dalam dosis tunggal, karena akan meningkatkan kepatuhan penderita. Pada beberapa penderita, mungkin dapat dimulai terapi dengan lebih dari satu macam obat hipertensi. Penderita dengan tekanan darah lebih besar 200/120 mmHg harus diberikan terapi secepatnya dan apabila terdapat gejala kerusakan organ target (otak,jantung,mata dan ginjal) harus segera mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Beberapa pertanyaan yang sering ada tentang hipertensi

-       Apakah saya harus terus mengonsumsi obat penurun tekanan darah tinggi ?
Selama dokter menganjurkan demikian sebaiknya anda tetap mengonsumsi obat hipertensi secara terus menerus, tentu saja anda juga harus kontrol ke dokter dengan teratur.
-       Apakah saya harus terus berolahraga ?
Olahraga harus tetap dijalankan, terutama aerobik bisa selama 30 – 45 menit setiap hari ( jalan di tempat, lari di tempat atau jogging di sekitar rumah)
-       Apakah kalau terlalu lelah akan menyebabkan tekanan darah meningkat ?
Kecapaian atau kelelahan akan menyebabkan denyut jantung meningkat dan pembuluh darah menyempit, sehingga tekanan darah akan naik. Oleh karena itu, selalu sempatkan untuk beristirahat di sela-sela aktivitas anda yang melelahkan walaupun hanya sebentar.
-       Apakah anak-anak dapat menderita hipertensi bila orang tua memiliki riwayat hipertensi ?
Anak-anak nantinya ada kemungkinan menyandang hipertensi kalau orang tua tidak membiasakan mereka untuk berpola hidup sehat. Tetapi sekali lagi, tidak selalu anak dari orang tua penderita hipertensi akan memiliki hipertensi. Selama bisa menghindari makanan yang terlalu asin, berolahraga secara teratur dan terukur, senantiasa melakukan medical check-up secara rutin di atas usia 40 tahun dan hidup dengan rileks, hipertensi kemungkinan tidak akan menghampirinya.



 Salam sehat,


5 komentar on "Apakah Hipertensi Merupakan Penyakit Keturunan ?"
  1. Iya yah, sering sekali ka' dengar kalo marah² orang dibilang "darah tinggi" hehehe.

    Banyak hal ya yang bisa jadi pemicunya. Genetika bukan satu²nya.

    BalasHapus
  2. Terima kasih sharingnya bu dokter cantik, jadi tau penanganan hipertensi. Ternyata selain faktor keturunan, faktor lingkungan juga sangat berpengaruh.

    BalasHapus
  3. Makasih sharingnya yang bermanfaat banget, dok. Saya agak khawatir nih kena hypertensi karena 2 lalu tensi 130/90 padahal biasanya 110/70 ji, huhuu... Tapi memang waktu itu saya abis makan kepiting sih dan agak banyak. Hehe...

    BalasHapus
  4. Olah raga inilah yang paling sulit saya lakukan secara rutin, padahal sudah tergolong obesitas.
    Makasih sharingnya bu dokter, sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  5. Mama saya termasuk penderita hipertensi tapi sepertinya penyakit yang dideritanya ini bukan karena keturunan deh. Kata mama saya sih mungkin karena pengaruh KB, karena sejak itu tekanannya sering naik. Apa iya dok, penggunaan KB bisa bikin seorang ibu menderita Hipertensi?

    BalasHapus

Custom Post Signature