Minggu, 15 April 2018

HELLO, BAU-BAU









Perpindahan ( Re : mutasi ) bukan lagi suatu yang asing bagi saya dan pak suami. Sebelum kami menikah dia terhitung sudah dua kali berpindah Wilayah kerja. Ya.. beginilah mungkin seorang abdi negara yang harus siap sedia kapan saja. Apalagi bagi yang usianya masih muda-muda seperti usia suami sekarang dan memang banyak sekali pegawai yang mengalaminya.  Yang muda ke daerah dulu lah cari pengalaman dan belajar lebih banyak, biar yang senior-senior kembali ke keluarga besar dan dekat dengan perkotaan.

Hari itu 9 April dini hari saya menjalani aktifitas rumah tangga seperti biasanya tentu saja tanpa firasat apa-apa. Setelah adzan subuh dan setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, saya begegas menyiapkan air mandi untuk suami ( dia memang lebih suka mandi air hangat saat pagi hari) menyiapkan sarapan, merapikan barang yang akan dibawanya ke kantor, termasuk membuatkan cemilan untuk makan siang.

Sebagai ibu rumah tangga yang belum memiliki buah hati, sekarang ini suami menjadi prioritas utama saya. Sebisa mungkin dia harus makan masakan saya setiap hari. Kalau lagi gak mood sarapan yaa musti bawa bekal. Kalau lagi males bawa bekal tetap saya paksa hahaha( salah satu cara saya biar dia kangen  terus sama istrinya dan manjur :D)

Kebetulan hari ini ada janji dengan istri-istri teman suami untuk pertemuan bulanan. Sebut saja sih arisan, sesudah arisan saya mampir di kantor pak suami untuk sholat ashar bersama ibu-ibu yang lain sekalian menunggu suami selesai jam ngantor. Padahal jarang banget saya mampir ke kentornya, tumben hari jumat ini lagi pengen aja pulang bareng.

Akhirnya saat di mushola saya bertemu sama paksu yang pengen sholat juga, tapi saat itu saya udah selesai dengan ibu-ibu yang lain.

Habis sholat kita bicara ya “


Saya tentu saja kaget, lho ada apa ini. Gak biasanya suami saya seserius itu





Bismillahirahmanirrahim. Off to Bau-Bau.
Bersama akan terasa lebih mudah.


Beberapa menit kemudian

“ Ini lho dapat SK pindahan lagi
“ Ha… pindah lagi, padahal belum dua tahun di sini
“ Iya, ke Sulawesi tenggara , buton tengah“
“ Itu dimana ???
“ Pokoknya nanti ikut ya.. kali ini kamu harus ikut.

Siklus perpindahan suami bisa dibilang lumayan sering di lima tahun terakhir ini. Pertama kali di Kabupaten Polewali, lalu kota Mamuju Sulawesi barat, kemudian Mutasi Ke Kota Makassar lalu kini pindah lagi ke Sulawesi tenggara, kepulauan Buton.


Kurang lebih 1,5 tahun saat di Makassar kemarin saya senang sekali rasanya, soalnya bisa silaturrahim dengan keluarga-keluarga besar, hadir ke acara-acara sepupu, keluarga, teman dan yang pasti sih bisa jalan-jalan menikmati kuliner makassar bareng-bareng. Huhuhu







Ditempatkan di daerah terpencil jujur saja merupakan suatu tantangan.  Suka gak suka harus dijalani, mau gak mau harus dihadapi. Karena semua demi negara, semua demi pelayanan kepada masyarakat.


Akhirnya jumāt 13 april kami berangkat ke Kota Bau-Bau, Kepulauan Buton dengan segala Doa restu dari keluarga kami juga panggilan kantor cabang yang sudah tidak bisa menunggu lagi, menginginkan kami untuk segera berada di kabupaten Buton Tengah.


Makassar ke Kota Bau-Bau dapat ditempuh dengan pesawat udara sekitar kurang lebih 50 menit. Dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar --- Bandara Betoambari, Bau-Bau. Pesawat yang terbang ke sana hanya jenis ATR.






Karena belum tahu situasi dan kondisi di sana, selama beberapa hari kami menginap dulu di sebuah hotel. Sambil pak suami mencari lokasi untuk kami tinggali. Saya sendiri baru pertama kali sih ikut dia ke tempat tugas, waktu di Sulbar kemaren. Saya gak ikut karena dia kasihan, masih gak tega misahin saya sama mama. Hahaha( saya dan mama emang deket banget, tidur saja masih bareng sampai sekarang, kalau dulu pak suami lagi keluar kota, dia pasti selalu nemenin saya tidur)






Bicara tentang Buton, baru tiga hari di sini, kulitku rasanya kering banget, jadi lettek gitu. Apa mungkin karena di sini wilayahnya dominan pesisir pantai ya ? hmm.. saya ngerasain sih kalau emang cuacanya lebih tinggi dari makassar, kalau di sini jam 10 pagi, hampir sama dengan jam 1 siangnya makassar. Jadi Musti  wajib nyetok pelembab dan Sunscreen selama di sini. Biar kulit tidak rusak karena efek buruk sinar matahari.





Hal yang kami lakukan setelah serangan panik mereda akibat efek pindahan, itu..


1    Mencari Kontrakan ( Di bau-bau kami tidak punya sanak saudara)

2     Mengunjungi Pasar Tradisional ( Untuk buibuk ini penting banget)

3    Nyari tempat isi air galon yang recommended

         Cek Lokasi ATM Centre terdekat

5    Cek Lokasi kios barang campuran

6    Cek Lokasi tempat laundry recommended ( persiapan kalau musim hujan tiba)

7    Cek Lokasi kantor-kantor Urgent ( PLN, PDAM, Kantor Polisi, Grapari Tekomsel)

8    Cek Lokasi penjualan alat-alat pertukangan

9    Cek Lokasi penjual makanan jadi (persiapan buibuk kalau lagi gak sempat masak)


      Sosialisasi sama tetangga dan belajar menghapal jalan-jalan yang penting. ( Termasuk hapal alamat rumah kontrakan)




Cerita saya selama mendampingi pak suami akan kulanjutkan lagi kalau sudah banyak tahu tentang kota ini, soalnya belum bisa cerita banyak kalau belum jalan-jalan selama di sini. Di Kepulauan Buton ini dari hasil pencarian saya di Wikipedia ternyata banyak tempat-tempat wisata keren yang musti di kunjungi, selain pantai lakeba yang pernah saya datangi.

Teman-teman punya pengalaman juga gak ? ketika harus berada jauh dari rumah. Menjalani hari-hari di perantauan. Sepertinya perpindahan kali ini akan punya makna tersendiri bagi saya dan suami, meski tidak jarang suatu saat akan menyisakan rasa pahit dan manis.






------Bersambung-----



10 komentar on "HELLO, BAU-BAU "
  1. Jadi penasaran sama cerita lanjutannya. Soalnya belum pernah ke Bau-Bau, cuma pernah dengar-dengar saja kalau di sana juga banyak tempat wisata yang seru untuk dikunjungi. Cerita selanjutnya tentang Bau-Bau ditunggu yah bu dok hehehe

    BalasHapus
  2. Asik juga ya haha. Tapi aku masih mahasiswa mba belum kepikiran buat punya pasangan hidup untuk diajak jalan2 bersama. Insya Allah next two years 😂

    BalasHapus
  3. Akhirnya ya ikut sama paksu. Emang harus gitu tuh, dampingi suami, jangan hidup terpisah, hehe...

    BalasHapus
  4. daftar things to do di atas sama dengan apa yang saya lakukan kalau tugas di sebuah kota untuk jangka waktu lama :)

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah ya Cinta bisa ikut.
    Semoga sehat selalu di rantau dan makin mesra ya Dokter Cintakuuu.

    BalasHapus
  6. Waktu baca judulnya, saya kira ada hubungannya dengan aroma hahaha.

    Ternyata Bau-bau yang nama kota.

    Sukses bu dok di kampung orang. Di manapun itu, asal kita datang dengan niat baik maka Insya Allah semua akan lancar.

    BalasHapus
  7. Hmm..bnyak juga yang dipikirkan setalah ada keputusan untuk mutasi..tak terpikirkan sebulum tentang cari penjual galon recomended..hhehe

    BalasHapus
  8. Saya dulu pernah bercita-cita eh bukan, lebih tepatnya menghayal, bertugas di daerah lain. Saya jarang keluar daerah kodong, tapi takdir bicara lain, saya tetap setia di Makassar sampai saat ini.

    BalasHapus
  9. Saya juga anak rantau. Haha. Setelah lulus, pergi PTT di pulau super terpencil hampir masuk laut cina selatan, padahal areanya masih termasuk kab. Bintan, kepulauan Riau haha.

    Sampai sekarang, tidak balik ke Makassar, apalagi setelah PTT malah pergi mengadu nasib ke mamahkota.

    Iya, kutahu rasanya, bedanya saya sendiri, tidak bersama suami karena belum punya. Hahaha~

    Good luck selalu di tempat baru yaa :)

    BalasHapus
  10. Kalau pengalaman saya abis nikah hijrah ikut suami. Yang rencana awalnya bakal tinggal di Makasaar eh tahu-tahu suami malah dipindah kerja ke Barru dan sekarang sih hidup masih nomaden gitu. Tapi tentunya banyak pengalaman ya kak, apalagi tinggal di kota yang benar-benar baru.

    BalasHapus

Custom Post Signature