Minggu, 06 Januari 2019

Periksakan Diri Ke Dokter Minum Obat Kemudian


Dokter  : Selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu, ibu keluhannya apa ?


Pasien  : Iya nih dokter, perut saya sakit


Dokter   : Sejak kapan bu, sakit perutnya ?


Pasien  : Sekitar satu jam yang lalu dok,


Dokter   : Ibu ada keluhan lain, mual muntah gak bu ? ada BAB encer gak bu ?


Pasien  : Nggak ada dok, sakit perut aja


Dokter  : Konsumsi makanan terakhir apa bu ?


Pasien  : Makan gorengan aja dok tadi, sambelnya peddes sih


Dokter  : oh gitu ya bu, ibu udah minum obat sebelum ke sini ?


Pasien : Udah dok, tadi minum Tetra sih, beli di warung, obat yang suami biasa minum


Dokter  : Kemudianceramah panjang lebar tentang obat antibiotik

            
Obrolan seperti di atas tadi tidak jarang saya temukan ketika berada di tengah-tengah masyarakat, dimana masyarakat masih kurang informasi tentang penggunaan antibiotik yang tepat, masih banyak masyarakat yang membeli antibiotik di luar tanpa resep dokter. Sementara penggunaan antibiotik sebenarnya tidak digunakan sebagai pengobatan pribadi atau dengan kata lain sebagai inisiatif pasien tersebut, dikarenakan itu tadi pemberian antibiotik hanya boleh diberikan atas petunjuk dari dokter yang telah terlatih secara medis atau telah memiliki sertifikat kompetensi.

Selain alasan di atas penggunaan antibiotik juga tergantung dengan jenis infeksi yang dialami oleh seseorang. Seperti Sebuah Penelitian yang pernah dimuat di harian Kompas.com tahun 2018 bahwa Resistensi antibiotik di Indonesia telah merenggut nyawa 700.000 penduduk dunia setiap tahunnya dan jumlah ini diprediksi meningkat apabila belum terbangun dan terciptanya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi antibiotik secara baik dan benar.

Saya mengutip Dettie Yuliati  Direktur Pelayanan Kefarmasian, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia saat Symposium Nasional “ More Protection, Less Microbal “ Di jakarta, Selasa 27 Februari 2018 lalu, jika pada tahun 2050 kasus anti microbial retension (AMR) bisa menyebabkan kematian hingga 10 juta jiwa per tahun.

 "Antibiotik hanya perlu untuk penyakit infeksi bakteri, bukan karena virus. Dan jangan membagikan atau memberikan antibiotik pada orang lain, karena kondisi penyakit tiap orang berbeda-beda " 

Jelasnya. Kemudian ditekankan lagi bahwa pembelian antibiotik harus disertai resep dokter, karena seseorang belum mengetahui penyakit apa yang diidapnya, sangat dikhawatirkan jika dosis obat yang ia konsumsi malah memicu kekebalan atau resistensi bakteri tertentu yang menyebabkan sebuah penyakit tidak bisa diobati.

Di Percakapan di atas, si ibu membeli obat tetra di warung, Obat tetra yang dimaksud ini adalah tetracyclin yang merupakan golongan antibiotik. Dimana si ibu belum mengetahui penyakit apa yang sedang di deritanya, sementara ia langsung membeli obat tetra di warung atas usul suaminya.
Hal ini bisa disebabkan karena tingkat pengetahuan si ibu dan keluarga masih kurang tentang penggunaan antibiotik yang rasional. 


Maka dari itu ada baiknya jika kita memiliki keluhan atau menderita suatu penyakit segera periksakan diri ke dokter yaa, karena dokter juga yang tahu pasti mengenai dosis, frekuensi yang cocok serta jangka waktu yang tepat dalam mengonsumsi suatu obat-obatan, sesuai dengan kondisi kesehatan seorang pasien. Dikarenakan banyak sekali efek samping negatif lainnya yang dapat timbul dari irrasional penggunaan antibiotik ini, yang sebenarnya si ibu hanya perlu mengonsumsi obat anti nyeri untuk meredakan nyeri perutnya, eh malah jadi mengonsumsi obat antibiotik tanpa ada indikasi yang jelas.

Yuk, Sahabat Healthies Periksakan dahulu diri kita ke dokter  yaa minum obat kemudian.Jangan di balik.




Salam sehat.







14 komentar on "Periksakan Diri Ke Dokter Minum Obat Kemudian"
  1. aseeek.. makin banyak dokter yang menulis dan berbagi tentang isu kesehatan makin bagus. bisa mencerdaskan warga awam kayak saya ini..

    btw, bisa konsul gak dok?

    BalasHapus
  2. mantap kak. Bagaimana kalau ikatan dokter membuat sebuah aplikasi berbasia apps yang bisa diakses melalui mobile phone. Dengan begitu, masyarakat lebih mudah melakukan konsultasi sebelum mengkonsumsi obag.

    BalasHapus
  3. Kayaknya suaminya si ibu itu sama dengan suamiku yang kadang-kadang suka sotta soal obat, wakwawkak...
    Tapi kata suamiku sih dia banyak bertanya sama temannya yang apoteker.

    Apa sudah tepat tuh dok, kalo kita bertanya ke apoteker, selain ke dokter?

    BalasHapus
  4. saya juga termasuk yang sering konsumsi anti biotik tapi dalam kasus sakit gigi dengan anjuran donter, jadi kalau sakitmi sede pasti saya beli lagi obatnya tanpa resep karena saya sudah tau merk obatnya. Itu juga ngefek kak?

    BalasHapus
  5. bukan cuman karena kurang pengetahuan kak dok, tapi terpengaruh sama pendapat masyarakat yang "eh tetra mi saja beli, saya kemarin begitu juga langsung ji sembuh" cobami

    kemudian melipir ke warung

    BalasHapus
  6. Sayami itu suka begitu. Minum obat dahulu, ke dokter kemudian. Eh tapi saya punya cerita kurang baik tentang dokter. Nanti deh saya tulis.

    BalasHapus
  7. Deh iyaaaa sakit kepala dikit beli obat. badan hangat ji, beli obat. Padahalkan gak bisa asal beli. Jadinya resistensi. Tp masih banyak yang Awam sih, jadinya langsung asal beli kalau sakit dikit.

    BalasHapus
  8. fenomena yangs sering saya lihat, dan paling banyak terjadi di kampung. Mungkin karena faktor masih awam kali yah kak.
    Tapi thanks banget sharingnya, brrti penting banget memeriksakan diri ke dokter

    BalasHapus
  9. Saya jarang minum anti biotik tanpa resep dok. Tapi semenjak ada masalah ligamen otot saya agak sering mengkomsumsi obat jenis painkiller. semoga ndak adaji efek sampingnya di kemudian hari

    BalasHapus
  10. Waaaakkkk. Saya baru pertama mampir ke blog ini kak. Salam kenal kak, heheh. Saya suka kontennya. Sangat informatif dan edukatif.

    Setidaknya stelah membaca tulisan ini, sya tidak perlu lagi buka website hello dokter buat tnya2 fungsi obat antibiotik wkwkwk

    BalasHapus
  11. saya termasuk orang yang malah terhitung jarang mengonsumsi obat pas sakit. Paling refleksi atau cari di google, kenapa bisa sakit? nah kalau sudah ketemu jawabannya, beberapa hari kemudian biasanya langsung sembuh. Agak jarang ke dokter periksa langsung, mungkin karena tinggal sendiri ya.. Jadi kemana mana kebanyakan sendirian. #malahcurhat :(

    BalasHapus
  12. Saya tinggal bersama keluarga besar di rumah, dua orang kakak saya adalah apoteker. Tidak jarang kalau sedang sakit saya langsung tanya ke mereka, sebaiknya minum obat apa yaa?

    Kalau mau turunkan panas saja ya biasa mereka sarankan paracetamol. Tapi kalau demamnya sudah berhari-hari, diikuti gejala yang lainnya, atau penyakitnya gak sekadar demam ya sama mereka langsung disuruh ke dokter. Hehehe.

    "Ke dokter aja dek periksakan, biar lebih jelas apa penyakitnya", begitu kata kk saya.

    BalasHapus
  13. deh mamakku ini dulu begini hiks apa-apa amoxicillin, atau tetra. Sejak saya paham soal antibiotik, pelan-pelan saya kasi tau soal bahaya resistensinya.

    BalasHapus
  14. deh mamakku ini dulu begini hiks apa-apa amoxicillin, atau tetra. Antibiotik jadi semacam obat segala macam sakit :D Sejak saya paham soal antibiotik, pelan-pelan saya kasi tau soal bahaya resistensinya.

    BalasHapus

Custom Post Signature